PAPPI menggelar Seminar Nasional dan Kongres III

Percepatan pembangunan memerlukan sinergi dan kerja bersama banyak pihak. Oleh karena itu konsep pembangunan ‘pentahelix’ hadir sebagai strategi untuk membangun kolaborasi unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media untuk mendukung tujuan pembangunan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka Perhimpunan Ahli Penyuluhan Pembangunan Indonesia (PAPPI) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Kongres III dengan tema: “Peran Strategis Penyuluhan dalam Pembangunan Manusia melalui Pendekatan Penta Helix di Era Digital”. Tujuan utama kegiatan ini adalah (1) Membangun sinergi dan jejaring (networking) bagi penguatan kapasitas SDM serta peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah dalam bidang penyuluhan dan pengembangan masyarakat, baik dalam lingkup nasional, regional maupun internasional; (2) Membangun komunikasi, kerjasama dan iklim ilmiah (scientific atmosphare) yang kondusif dan produktif dalam wadah PAPPI, baik bagi penguatan kompetensi dan profesi anggota, peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah berkala, perluasan substansi dan sebaran publikasi ilmiah, maupun pembangunan masyarakat di berbagai bidang.

Kegiatan ini dilaksanakan secara online pada Kamis, 24 Juni 2021, sekaligus merupakan salah satu rangkaian dari agenda Dies ke-16 Fakultas Ekologi Manusia IPB. Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama PAPPI dengan Fakultas Ekologi Manusia dan Peminatan Ilmu Penyuluhan Pembangunan Program Studi Komunikasi Pembangunan (KMP) Sekolah Pascasarjana IPB, dan didukung oleh CARE LPPM IPB, IPB Today, Kementerian Pertanian RI dan Pemerintah Kota Bogor.

Seminar diawali  dengan Sambutan oleh Ketua PAPPI, Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS, welcoming Speech oleh Dekan FEMA IPB, Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc dan selanjutnya penyampaian Keynote Speech dan pembukaan yang disampaikan oleh Rektor IPB University,  Prof. Dr. Arif Satria.

Pada sambutannya, Ketua PAPPI, menyampaikan bahwa keberhasilan penyuluhan dilakukan melalui optimalisasi peran penyuluhan atau pendidikan non formal dalam mempromosikan perubahan. Penyuluhan berperan meningkatkan kualitas perilaku produktif insani, produktivitas dan kualitas kehidupan keluarga dan masyarakat. Guru Besar FEMA IPB ini juga menyampaikan kiprah PAPPI selama ini antara lain: (1) Penyelenggaraan seminar, simposium, konferensi dan pertemuan ilmiah lainnya melalui kerjasama antar perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan swasta di bidang penyuluhan pembangunan dan aspek terkait, antara lain di IPB, UB, Unand, Unila, UNS dll. (2) Penerbitan Jurnal Penyuluhan sebagai media ilmiah penyebarluasan hasil penelitian bidang penyuluhan pembangunan/pemberdayaan/kemandirian, yang sudah terakreditas Sinta 2. (3) Advokasi kebijakan kepada pemerintah tentang sistem penyuluhan dan penyelenggaran penyuluhan yang efektif, antara lain dalam berbagai diskusi pembahasan revisi UU No 16 tahun 2006 tentang UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan

Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB, Prof. Dr. Ujang Sumarwan, MSc menyambut baik acara ini, dan  menyampaikan bahwa peran PAPPI semakin penting di era digital seperti sekarang ini. Selanjutnya Guru Besar Ilmu Konsumen FEMA IPB ini mengharapkan seminar ini akan menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan ke masyarakat luas, sehingga dapat dikenali dan diadopsi oleh masyarakat. Ke depan, terkait dengan kebijakan merdeka belajar, diharapkan PAPPI dapat menjadi mitra untuk mahasiswa dalam hal riset, program-program kemanusiaan, serta pengabdian/pemberdayaan masyarakat.

Dalam keynote speech-nya, Rektor IPB, Prof. Dr. Arif Satria mengatakan bahwa saat ini kita dihadapkan pada era perubahan yang begitu masif, yang dicirikan dengan kecepatan, ketidakpastian dan kompleksitas. Untuk menghadapi perubahan dengan ciri tersebut, maka perlu beberapa hal yang perlu disiapkan, yaitu: Pertama, perlunya mindset baru, yaitu growth mindset. Kedua, perubahan perilaku baru, yaitu perilaku pembelajar, yang lincah, tangguh, tangkas. Ketiga, literasi baru, yaitu literasi digital. Keempat, soft skill baru, yaitu kemampuan untuk kolaborasi, complex problem solving, komunikasi, critical thinking, dan creativity. Maka penyuluhan ke depan harus mengarah kepada pencapaian empat perubahan di atas.

Selanjutnya, acara seminar makalah utama dipimpin oleh moderator Prof. Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi, Guru Besar FEMA IPB sekaligus Kepala Perpustakaan IPB. Seminar makalah utama mendhadirkan tiga pembicara, yaitu (1) Bupati Takalar, Sulawesi Selatan, yakni Syamsari Kitta, S.Pt, MM., (2) Dr. Ir. Siti Amanah, MSc, Dosen IPB yang juga Chair dari Rural Advisory Services for Southeast Asia (RASSEA) Forum, dan Ir Abdurahman, MAb dari PT Adaro Indonesia.  Benang merah dari ketiga pembicara adalah pentingnya komitmen pemimpin dari level pusat sampai di tingkat lokal dengan dukungan dunia usaha, media, akademisi dan masyarakat dalam penyediaan layanan penyuluhan sesuai kebutuhan. Hal tersebut dapat secara efektif akan mengurangi kemiskinan dan kelaparan sebagai bagian dari pencapaian tujuan SDGs.

Kegiatan seminar nasional ini dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan, yaitu akademisi/dosen, peneliti  dan ahli penyuluhan yang tergabung sebagai anggota PAPPI, pemerhati dan praktisi di bidang penyuluhan, pemberdayaan, pengembangan masyarakat, serta mahasiswa dari multi strata (S1, S2, S3).

Selain seminar makalah utama, dalam kegiatan ini juga dilaksanakan seminar makalah pendukung, yang mencakup tujuh topik utama, yaitu: penyuluhan pembangunan, gender, kemitraan, kelembagaan, perubahan perilaku, TIK, evaluasi program dan CSR. Ada 43 pemakalah pendukung dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penyuluhan dan praktisi yang mempresentasikan hasil penelitiannya, yang berasal dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga penelitian di Indonesia. Moderator seminar makalah pendukung yaitu: Dr Oos M Anwas (Kemdikbud), Dr. Dwi Sadono (IPB), Dr Sapja Anantanyu (Universitas Sebelas Maret), Dr. Sri Harijati MA (Universitas Terbuka), Dr. Elvira Syamsir (Universitas Syah Kuala Aceh), Dr. Erwiantono (Universitas Mulawarman) serta Dr. Sumaryo Gitosaputro (Universitas Lampung).

Setelah seminar makalah pendukung, acara dilanjutkan dengan Kongres III PAPPI. Acara kongres dipimpin oleh tiga orang pimpinan sidang, yaitu: Dr. M. Nur Sangadji (Universitas Tadulako), Dr. Herry B. Tanjung (Universitas Andalas), dan Dr. Puji Winarni (Badan Standarisasi Nasional).

Selain mendengarkan Laporan Pertanggungjawaban Ketua PAPPI periode 2015-2021, pada kongres ini juga dilakukan pemilihan Ketua Umum PAPPI yang baru. Sebelum tahap pemilihan ketua, dilakukan pemilihan tim formatur yang mewakili anggota dari wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. Tim formatur terdiri atas Dr. Hery B Tanjung (Universitas Andalas), Dr. Sumaryo Gitosaputro (Universitas Lampung), Prof. Dr. Pudji Muljono (IPB), Dr. Siti Amanah IPB), Dr. Dwi Sadono (IPB), Dr. Sapja Anantanyu (Universitas Sebelas Maret), Dr. Hatta Jamil (Universitas Hasanuddin), Prof. Dr. M. Ikbal Bahua (Universitas Negeri Gorontalo), dan Dr. Inta Damanik (Universitas Patimura). Hasil rapat tim formatur menyepakati Dr. Siti Amanah, sebagai Ketua Umum PAPPI periode 2021-2025 dan Dr. Dwi Sadono sebagai Ketua Pelaksana Harian, dan keputusan tersebut disetujui oleh peserta kongres. Peserta kongres juga menyepakati bahwa akan dilakukan peninjauan terhadap AD/ART PAPPI yang akan dibahas pada Musyawarah Kerja PAPPI mendatang(af).

Panitia Seminar dan Kongres PAPPI

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*