PKM-PIMNAS ADIKARTA PROJECT

Bring Back Adikarta Kertawidya to Its Home

“… kita Bisa, IPB Juara, IPB Digaya.” — Adikarta Project

Adikarta project, suatu komitmen untuk membawa piala kebanggaan Juara Umum PKM-PIMNAS (Pekan Kreativitas Mahasiswa-Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) kembali ke rumahnya, IPB University. Project ini dilaksanakan dengan tekad dan semangat yang kuat dalam menggali potensi dan inovasi mahasiswa IPB University pada program PKM-PIMNAS untuk mewujudkan cita-cita besar meraih penghargaan di bidang program penalaran. Adikarta project berpegang teguh pada 3 pondasi dasar, yaitu

  1. Semangat untuk belajar memberikan yang terbaik
  2. Semangat untuk menyatukan asa dan cita institusi
  3. Tekad kuat untuk meraih penghargaan tertinggi PKM-PIMNAS

Gambar di bawah menjelaskan mengenai Skema yang ditawarkan oleh Adikarta Project kemudian dikenal dengan Adikarta project-Spring.

Adikarta Project-Spring terlebih dahulu akan mengadakan brainstorming untuk membentuk perspektif dan pemahaman yang sama terkait step by step PKM 2021 sebagaimana aturan dan ketentuan yang berlaku. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 7-11 Januari 2021. Selanjutnya Adikarta project-Spring akan mulai melaksanakan skema di atas.

  1. Adikarta Project Training (13-17 Januari 2021)

Pelatihan secara online, offline, atau melalui media tutorial  lainnya. Target dari pelatihan ini adalah reviewer, pendampingan, ormawa, PKM Centre, dan mahasiswa PKM. Beberapa kegiatan pelatihan meliputi pelatihan menemukan ide kreatif, membentuk tim PKM yang solid, administrasi PKM, penulisan ide dan proposal, serta pendalaman substansi ide dan proposal PKM.

  • Ide Crafting Class (18-21 Januari 2021)

Workshop dan seminar online yang dilakukan oleh setiap fakultas atau sekolah. Dalam kegiatan ini akan disampaikan 2 materi yaitu:

  1. PKM 101; Cara Membuat Ide yang Baik dan Realistis. Disampaikan oleh pemateri eksternal dalam bidang critical thingking and idea crafting
  2. PKM Perbidang; pemaparan masalah yang sedang terjadi baik lokal maupun global sehingga menjadi referensi mahasiswa dalam membuat ide
  3. Unggah dan Riview Ide Kreatif

Proses mengunggah ide kreatif mahasiswa melalui lama https://pkmcenter.ipb.ac.id/sim. Ide yang sudah dikumpulkan/diunggah pada laman tersebut akan direview secara intensif oleh reviewer wilayah/fakultas dan IPB untuk bisa menghasilkan proposal berkualitas yang siap diunggah pada laman https://simbekmawa.kemendikbud.go.id/

  • Hackathon Ide dan Proposal Tingkat Unit/Fakultas dan IPB

Pembinaan intensif yang berfokus pada penggalangan dan pendalaman ide kreatif serta pendalaman proposal tingkat fakultas dan IPB.

  • Elevator Pitch

Presentasi per-bidang PKM sebagai Langkah akhir dalam proses seleksi proposal di tingkat IPB untuk selanjutnya diunggah pada laman Simbelmawa DIKTI. Pada tahap ini perlu disaring sebanyak 700 proposal berkualitas dan ditentukan juara per bidang PKM.

  • Enrichment

Proses pengayaan atau transfer knowledge kepada mahasiswa, meningkatkan semangat mengikuti PKM dan mampu mengembangkan kemampuannya dalam menulis maupun presentasi. Proses enrichment dilakukan pada hackathon ide dan hackathon proposal

  • Coaching dan Validasi Substansi

Proses pendampingan perbaikan proposal PKM yang telah lolos pitching PKM baik secara substansi dan administrasi untuk menghasilkan proposal berkualitas dan Zero Mistake

  • Unggah  Proposal

Fase pengunggahan proposal final ke website Simbelmawa DIKTI dan SIM PKM IPB dan melewati validasi substansi dan administrasi yang ketat oleh dosen riview (wilayah/IPB), melalui portal https://simbelmawa.kemendikbud.go.id/Login.aspx dan https://pkmcenter.ipb.ac.id/sim

Adikarta project juga menyediakan platform online berbasis website yang dapat diakses oleh mahasiswa dan dosen untuk proses komunikasi dan koordinasi PKM. Website tersebut dapat diakses pada laman https://pkmcenter.ipb.ac.id. Mahasiswa dan dosen dapat melakukan beberapa kegiatan melalui platform tersebut, diantaranya

  1. Interaksi dan diskusi dengan dosen dan sesame mahasiswa
  2. Mengunggah ide dan proposal PKM
  3. Review ide dan proposal secara online
  4. Pendampingan PKM

Selain kegiatan di atas, platform tersebut juga memudahkan mahasiswa dan dosen melakukan tracking,  karena database PKM akan  terpusat disimpan dalam web tersebut dan dapat diakses oleh semua stakeholder.

Tentang PKM-PIMNAS

PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) merupakan kompetisi penalaran bergengsi yang dilaksanakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi sejak tahun 1988. Kompetisi ini sebagai bentuk upaya menumbuhkan, mewadahi, dan mewujudkan ide kreatif dan inovasi mahasiswa di Seluruh Indonesia. Harapannya mahasiswa yang berpartisipasi dalam PKM dapat meningkatkan pengetahuan akademik, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan manajemen mereka. Berikut beberapa kategori yang dilombakan dalam PKM.

IPB mendidik mahasiswanya untuk kreatif dalam menciptakan inovasi, tanggap terhadap kebutuhan masyarakat masa kini, kompetitif dan resilien terhadap tantangan, serta mampu bekerjasama dalam menggapai tujuan. Kompetensi-kompetensi tersebut sangat dibutuhkan dalam kompetisi PKM. Mahasiswa akan dihadapkan pada beberapa tantangan yang harus mereka hadapi, diantaranya adalah

  1. Ide Program

Mahasiswa dituntut untuk memiliki ide program yang kreatif dan berdaya saing. Selain itu juga inovatif dan memiliki tingkat kebermanfaatan yang tinggi. Tingkat kebermanfaatan yang tinggi membuktikan bahwa mahasiswa tanggap dengan kebutuhan yang berkembang. Ide inovasi yang diusulkan juga harus memiliki sasaran yang jelas, misalkan kepada populasi masyarakat pedesaan secara luas atau spesifik kepada penderita penyakit tertentu. Potensi dan keberlanjutan ide yang ditawarkan juga harus terukur dengan jelas.

Untuk menciptakan ide inovasi yang memenuhi syarat tersebut, mahasiswa harus banyak membaca, baik itu buku, berita, perkembangan ilmu pengetahuan, atau keadaan masa kini. Harapannya dengan membaca mahasiswa dapat lebih update terhadap informasi dan perkembangan yang sedang terjadi. Selain membaca mahasiswa juga harus aktif berdiskusi dan searching agar melatih kepekaan dan daya piker yang kritis terhadap suatu fenomena.

  • Kompetensi Tim

Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu tim adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dari masing-masing anggota tim. Disarankan dalam satu tim memiliki kompetensi yang beragam, sehingga mampu menambah variasi penyelesaian suatu masalah dan menghindari pola piker yang monoton dan mainstream.

  • Kriteria Pengusulan dan Zero tolerance

Ajang PKM memiliki peraturan yang pakem, sehingga mahasiswa harus cermat dalam memenuhi persyaratannya.

  • Output PKM

Tim harus bekerjasama dalam menyelesaikan semua outpun yang diminta dalam kompetisi PKM; berupa ide yang berkualitas unggul, proposal pengajuan, laporan kemajuan program dan laporan akhir, video dokumentasi, buku pedoman, dan artikel ilmiah.

Puncak dari kegiatan PKM adalah PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ajang kompetisi nasional antar perguruan tinggi di Indonesia. Pada ajang ini, mahasiswa perwakilan masing-masing universitas berlomba-lomba menampilkan inovasi terbaiknya. Setiap tahunnya IPB selalu mengirimkan mahasiswa-mahasiswa terbaiknya untuk berkompetisi dan membawa pulang “Adikarta Kertawidya”.

Selama 3 tahun terakhir, grafik prestasi IPB dalam PIMNAS terus meningkat. Pada tahun 2020 IPB berhasil menjadi juara 3 dengan mengantongi 4 medali emas 14 medali perak dan 4 medali perunggu. Pada tahun 2004 dan 2005 IPB pernah membawa pulang piala juara umum PIMNAS, dan pada tahun 2016 IPB menjadi tuan rumah bagi terselenggaranya PIMNAS 26. Tahun ini IPB siap menjadi untuk kembali membawa pulang piala juara umum PIMNAS.

Materi Perkuliahan Prof. Ujang Sumarwan, M.Sc

Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. merupakan Guru Besar IPB dibidang Ilmu Konsumen dan Pemasaran. Sebagai dosen IKK, beliau aktif memproduksi video pembelajaran terkait dengan konsumen dan pemasaran. Selain itu, beliau juga aktif memberikan tutorial dan pelatihan pembuata e-learning mulai dari penyusunan materi, pembuatan video, hingga pembentukan platform e-learning. Berikut merupakan serangkaian materi pembelajaran yang telah di bagikan oleh Prof. Ujang Sumarwan.

Membuat Video Menarik Kuliah Daring dan Presentasi dengan Zoom (1/4)

Membuat Video Menarik Kuliah Daring dan Presentasi dengan Zoom (1/2)

Membuat Video Menarik Kuliah Daring dan Presentasi dengan Zoom (1/3)

Membuat Video Menarik Kuliah Daring dan Presentasi dengan Zoom (1/3)

Pembelajaran Efektif di Masa Pandemik : Tantangan Bagi Guru dan Orang Tua

https://www.youtube.com/watch?v=9WrP6Trqpfw

USA’S New Normal Consumer Behavior and Big Data

USA’S New Normal Consumer Behavior and Survey Data

Arah Kebijakan Family Recovery Pasca Pandemi di Indonesia

https://www.youtube.com/watch?v=Kkdp4V7K_vo

Tantangan Konsumen di Era Digital : Saat dan Pasca Pandemi

https://www.youtube.com/watch?v=QuGjxuJPWec

Tantangan Konsumen di Era Digital : Saat dan Pasca Pandemi

https://www.youtube.com/watch?v=JWd7NH029-c

USA’S Hikmah Covid-19 Gaya Hidup Sehat, Positif dan Produktif

Ujang Sumarwan: Al-Quran dalam Persfektif Manajemen Stratejik

USA’S SPEECH 01 VUCA VS TUNA

USA’S 01 FEMAEL Kuliah Daring dan Kinerja Organisasi 1- 8

USA’S 02 FEMAEL Mengapa Kita Mengembangkan Kuliah Daring 9 -12

USA’S 03 FEMAEL Kuliah Daring dan Pengembangan Keahlian 14 -17

USA’S 04 FEMAEL Faktor yang Dipertimbangkan dalam Memilih Daring atau Tatap Muka 18- 20

USA’S 05 FEMAEL Syarat Kuliah Daring Berjalan Baik 21-23

USA’S 06 FEMAEL Kuliah Daring Mandiri 21- 30

USA’S 08 FEMAEL Bahan Ajar Interaktif dan Non Interaktif 35-39

USA’S 09 FEMAEL Bahan Ajar Simulasi dan Panduan Kerja 40-42

USA’S 10 FEMAEL Komponen Daring 2 E-Tutoring 3 Collaborative Learning 43-46

USA’S 11 FEMAEL Komponen Daring Virtual Classroom 47-49

USA’S 15 FEMAEL Blended Learning 61- 67

USA’S 16 FEMAEL E-Learning Summary 68 -72

USA’S 17 FEMAEL Tools and Technology for E-learning 73-87

USA’S Cara Mudah Membuat Daftar Biodata Peserta Seminar dengan Akun Google Scholar

USA’S Cara Mudah Membuat Akun Google Scholar

USA’S 02 FEMA ELEARNING 20200502 SLIDE 1-13

USA’S 01 FEMA ELEARNING TRAINING

USA’S How to Joint Google Class Room (Cara mudah menjadi siswa di google class room)

USA’S Consumer Behavior 19 Deceptive Information and Advertising By Istiqlaliyah

USA’S Consumer Behavior 18 Social Responsibility to Consumer

USA’S Consumer Behavior 17 Decision Making Buying Consumption Satisfaction by Retnaningsih

USA’S Consumer Behavior 16 Decision Making Needs Information Evaluation By Retnaningsih

USA’S Consumer Behavior 15 Technology and Its Impat on Consumer by MD Djamaluddin

USA’S FEMA IPB Pelatihan Elearning Terbuka untuk UMUM

USA’S Cara Mudah Membuat Video Bahan Ajar dan Kuliah dengan Power Point Office 2016.

USA’S Social Marketing 9 5 Creative Strategy Slide 45 69

USA’S Consumer Behavior 14 3 Consumer Environment and Situation by Irni Johan

AACIM 2020 International ESeminar and Book Launching Green Consumer and Marketing

USA’S Consumer Behavior 14 2 Consumer Environment and Situation By Irni Johan

USA’S Consumer Behavior 14 1 Consumer Environment and Situation by Irni Johan

USA’S Social Marketing 9 4 Messenger Strategy Slide 27 44

USA’S Social Marketing 9 3 One Sided and Two Sided Messages Slide 22 27

USA’S Tutorial Membuat Video Kuliah dan Presentasi Menggunakan Zoom Meeting

USA’S Menulis Tanpa Mengetik Tutorial Menulis Buku-Karya Ilmiah-Tugas Mahasiswa

USA’S Social Marketing 9 2 Message Strategy Slide 15 21

USA’S Social Marketing 9-1 Promotion Strategy Creative Brief

USA’S Hanya 15 Langkah Membuat Video Kuliah untuk Elearning

USA’S Social Marketing 8 3 Communication

USA’S Social Marketing 8 2 Communication

USA’S Social Marketing 8 1 Communication

USA’S Work From Home to Produce Video Teaching Materials

USA’S Consumer Behavior 12-3 Family and Households

USA’S Consumer Behavior 12-2 Family and Households

USA’S Consumer Behavior 11-3 Socioeconomic and Demographic Characteristics

USA’S Consumer Behavior 11-2 Socioeconomic and Demographic Characteristics

USA’S Consumer Behavior 12-1 Family and Households

USA’S Consumer Behavior 11-1 Socioeconomic and Demographic Characteristics

USA’S Proses Keputusan Konsumen (Consumer Decision Making)

USA’S Consumer Needs and Motivation

USA’S Marketing Plan 04: Strategic Formulation. Perencanaan Pemasaran

USA’S Marketing Plan 03: Situation Analyses

USA’S Marketing Plan 02: Strategic Focus and Plan

USA’S Marketing Plan 01: Introduction

INITIATIVES TO SUPPORT FARMERS AND PEASANTS IN DEALING WITH THE IMPACT OF COVID-19 IN INDONESIA

In this blog, Dr Siti Amanah discusses some of the initiatives taken up by the Government and the Universities to support farmers and peasants reeling under the impact of Covid-19 in Indonesia

CONTEXT

COVID-19 has become a major challenge in Southeast Asian countries. The crisis has affected the way people work, study, and interact with each other. Indonesia is the largest country in Southeast Asia and the fourth most populated country in the world (273 million). It is nearly three months since the first positive COVID-19 reported in the country in early March. Since the middle of March 2020, all schools, campuses and offices have been closed. Modes of learning and teaching have changed from face-to-face to distance learning. All officers and employees are working from home, except those working in hospitals, security, logistics, banks etc.

IMPACT ON AGRICULTURE

COVID-19 has also changed the way people interact with each other and affected so many sectors including agriculture. Paddy, soybean and corn are the most important crops in Indonesia. Small farmers (having less than 1 ha land) and peasants (landless working on rented farms or sharing resources with landowners) are the main producers of these crops and the average land managed is below one hectare.

Due to government’s policy to restrict movement, the transportation of agricultural products from fields to markets has been restricted. Prices have dropped at the farm level and consumers are paying higher prices as the supply of food products is limited in the markets. Farmers also face the problem of limited access to farm inputs including fertilizers, pesticides and seeds.

INTERVENTIONS FROM IPB UNIVERSITY TO SUPPORT FARMERS

Discussed below are some of the interventions to support farmers in tiding over the crisis.

Rumah sayur or Vegetable House: Buy vegetables and fruit from home

Rumah sayur or Vegetable House aims to assist small farmers and peasants to sell their produce directly to consumers through e-commerce. The initiative is part of a program from the Directorate of Students and Carrier Development of IPB University called One Village One Chief Executive Officer (OVOC).  The Vegetable House is an online shop, merchant-managed by the IPB Students who are “Young Entrepreneurs” or CEOs of the shops.

IPB University has collaborated with Tokopedia, an Indonesian technology company with a mission to democratize commerce through technology (Fig 1), and recently with Lazada, Southeast Asia’s leading e-commerce platform, to open rooms for the farmer’s fresh produce entering the marketplace which is e-commerce platform. This is intended to enable the products to reach customers faster and reduce marketing chains while preventing produce from wastage on the field.  The shop collects the produce from farmers.

IPB University manages two shops – Rumah Sayur Cisarua and Rumah Sayur Bogors – which are located outside the university campus. The vegetable or fruit will be stored in these shops. The customers buy products through Tokopedia and Lazada apps. Shops and the customers communicate through an online system.  The products will be delivered directly to the address provided by purchasers. The customer and the seller (online shops) can track the transaction process. The application tracks delivery of the product from farmers, to shops and to the buyer, thus facilitating monitoring at all stages.

Fig. 1. Rumah Sayur Bogor (Vegetable House), cooperation between smallfarmers, IPB Unviersity and Tokopedia (from tokopedia website, 2020)

IPB University has an Agribusiness and Technology Park (ATP) which was established in 2006. IPB University educates farmers to better understand and apply principles of agribusiness. The products of ATP have been marketed in supermarkets in Bogor, Jakarta, Depok, Tangerang and Bekasi. ATP also cooperates with Rumah Sayur, Bogor, to supply vegetable and fruits to consumers.

The program has not only assisted farmers but also the consumers. The farmers’ products can reach markets and they get fair price; and the consumers can buy fresh food as needed while at home.

Buy one, give one (Tani  (agri) Center of IPB University and Citizen Coalition for Food Security)

Farmers in rural areas are finding it difficult to sell their rice produce in the market. Brokers who buy rice from the farmers have postponed transactions. The farmers lost revenue that they receive in this time.  Without support from government, private sector, civil society organizations and from the university, farmers will not be able to continue farming.

In this case, the Tani Center of IPB University collaborated with a civil society organization -Citizen Coalition for Food Security – to initiate a program called “Buy one, Give one”. The program, launched in April 2020, focuses on assisting paddy farmers to get the rice produce find markets and at the same time also help the poor to get rice and other staple food freely. In this case, the customers can buy the rice for themselves or for donation. The rice that is donated by customers will be distributed to the poor. The targeted people of this program are 500 poor households (around 2500 to 3000 people). Tani Center has distributed rice to the poor in Cakung Area – North Jakarta and in Bogor City. The beneficiaries of the rice donation from Tani Center will do social-environmental activities including river care and waste management.

GOVERNMENT INITIATIVES

The Central Government has many programs to assist farmers and Small and Medium Enterprises running agricultural related business. The Ministry of Agriculture (MoA) implement a stimulus program for small farmers impacted by the pandemic. The stimulus program is in the form of cash and agricultural inputs for 2.4 million small farmers and peasants affected by the crisis. The amount of the stimulus in IDR is 600,000 per small-farmer.

The support delivered by the Ministry of Agriculture is in the form of free distribution of paddy and maize seeds, subsidized fertilizers and also continue the support to farmers through agricultural education and empowerment (in collaboration with extension services) and ensuring water for irrigating paddy fields.

Ecovillage Program (West Java Provincial Agency for Environment)

With a commitment to care for the environment of Citarum River Basin in West Java as well as managing community initiatives in managing land, water, forest and waste, the West Java Provincial Agency for Environment (WJPAE) started Ecovillage Program in 2014. The West Java Provincial Agency for Environment invites rural and urban community living in the area of Citarum river basins to work together in restoring or caring for the environment through: water resource preservation, waste management, planting yards in homes with crops or herbs for household needs and strengthening partnership with private and other organizations. The principle of “we care for nature and nature will save us” is internalized in community groups to strengthen the spirit for a better rural-urban ecosystem as well as social economics of the community.

The program started from zero-20 kilometer of Citarum River Basin (CRB) in 2014, located in upstream area of CRB. The government of West Java invited the community group that has a mandate for caring for the environment to register to the WJPAE to be supported under the Ecovillage Program. To strengthen capacity of the ecovillage based on community initiative, the WJPAE assigned an ecovillage facilitator for the community, with a community leader from the village. The facilitator should have prior experience as a community development worker and the WJPAE trains the facilitator before working with the community under ecovillage program.

Each community group receives IDR 8 million from WJPAE to finance meetings, workshops and field activities that were held by the ecovillage group. The facilitator assists the community using Participatory Rural Appraisal (PRA) approach to identify potential of the physical environment, social and economics of the area, to analyze the issues, to plan program, to link or to bridge the community with local government and private sectors and also to bring innovative ecovillage programs relevant to the community for a sustainable livelihood. An ecovillage facilitator is recruited by WJPAE after passing the selection process.

Having implemented the program for five years, Ecovillage Program has been widely adopted by communities living outside CRB. In this regard, a community group consists of village cadres, supported by community leader and head of the village, developed a community action group called “Ecovillage Baraya” in 2017.  The location of “Ecovillage Baraya” is in Bendungan Village, Ciawi Subdistrict, Bogor District. This ecovillage has successfully managed the program for not only preserving water resources, managing reuse, reduce, recycle (3R), but they also creatively used the water canal as a fishpond (Fig 2 show this Ecovillage). During the coronavirus pandemic, members of Baraya Ecovillage group enjoyed the harvest in the form of vegetable, fish, as well as social-bonding among the community that was also strengthened (https://www.instagram.com/p/CAqoEe-ptZx/). This can be seen as an intangible output from the ecovillage.

Fig 2. Baraya Ecovillage in Bogor – West Java

CONCLUSIONS

There are many programs and actions initiated and implemented to ease the impact of COVID-19 by various organizations in Indonesia.  We do hope that the Extension and Advisory services (EAS) could do their best to support small farmers and peasants in the frontline of efforts for food security by organizing collaborations among the government, private sector, community leaders, civil society organization and universities. COVID-19 at the same time is also urging us to make a small retreat and to allow nature rest for a while to reach a new equilibrium.

 

sumber : apiras.net

-Mebumi dan Mendunia-

Pedoman Makan Sehat selama Pandemi Covid-19

Makan adalah kebutuhan utama setiap makhluk hidup, karena dengan makan manusia akan mendapatkan energi untuk berfikir, bergerak, bernafas, dan yang lainnya. Akan tetapi, makanan juga dapat menyebabkan gangguan misal penyakit. Hal tersebut dapat terjadi jika makanan yang kita konsumsi tidak bersih atau berlebihan. Oleh karena itu, penting bagi kita menjaga kulaitas makanan kita, terutama dimada pandemi seperti saat ini.

Departemen Gizi Masyarakat, IPB menggunakan referensi dari WHO menyusun pedoma maka sehat selama pandemi covid untuk kita jadikan referensi menjaga makanan kita. Berikut adalah beberapa pedomannya

  1. Makan dengan gizi seimbang, konsumsi makanan dengan gizi seimbang untuk memenuhi asupan gizi keluarga anda, sesuai dengan anjuran Kemenkes “Isi Piringku”.
  2. Jaga Kebersihan Makanan, jaga asupan selau higienis dengan memisahkan makanan mentah dan matang, memasak makanan sampai matang sempurna, gunakan air dan bahan baku yang aman dan bersih.
  3. Batasi asupan gula, Garam, dan Lemak (GGL), per orang per hari tidak lebih dari 50 gram/ 4 sendok makan gula, 5 gram/1 sendok teh garam, dan 67 gram/ 5 sendok makan minyak/lemak.
  4. Minum Air Putih, air sangat penting bagi kehidupan, air mengangkut gizi dan senyawa dalam darah, mengatur suhu tubuh, menghilangkan limbah, dan melubrikasi sendi. Minumlah 8-10 gelas air setiap hari.
  5. Menghindari makan di luar, makan di rumah untuk mengurangi tingkat kontak anda dengan orang lain dan menurukan peluang anda terkena Covid-19.

Jadi, jangan lupa jaga makanan kita tetap sehat agar kita kuat melawan covid-19

 

-Membumi dan Mendunia-

Tips Bangun Kerjasama dalam Kelompok

Sini, kita sedang menjalani Work From Home (WFH) dan Study From Home (SFH) untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19. Namun demikian, tanggung jawab pekerjaan dan aktivitas pembelajaran tetap harus dijalankan dengan sebaik mungkin. Dalam melaksanakan berbagai aktivitas tersebut, kerap kali kita memperoleh beberapa tugas yang harus dilakukan secara berkelompok. Tentu, bekerja dalam kelompok sangat membutuhkan koordinasi dalam pembagian tugas untuk setiap anggota.

Pentingnya pembagian tugas kelompok ini  untuk mencapai efektivitas tujuan kelompok yang sudah dirumuskan. Idealnya, dalam pembagian tugas kelompok harus disesuaikan dengan kemampuan bidang atau keahlian para anggota. Namun, ada kalanya dalam proses koordinasi pembagian tugas ini, kelompok menghadapi beberapa permasalahan atau kendala. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menghadapi masalah tersebut dan mencari rumusan solusi sebagai jalan keluar untuk menghasilkan keputusan pembagian tugas dalam kelompok yang tepat.

Menurut Titania Aulia, MSi, dosen Divisi Komunikasi dan Penyuluhan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, ada beberapa cara untuk membangun kerjasama dalam kelompok.
Yakni pilihlah pemimpin yang adaptif terhadap situasi. Gunakan media komunikasi yang tepat yang dapat dijangkau oleh seluruh anggota kelompok untuk memudahkan proses komunikasi yang interaktif antar anggota kelompok. Analisis penyebab yang memicu permasalahan dengan melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Lakukan brainstorming atau diskusi kelompok untuk memecahkan masalah agar dapat memperoleh solusi atau keputusan yang terbaik untuk kepentingan bersama. Dan bangun suasana atau “iklim” positif dengan selalu mengedepankan rasa saling percaya dan memberi semangat antar anggota kelompok,” ujarnya. (dh/Zul)

-Membumi dan Mendunia-

Sumber : ipb.ac.id/news/

Alfiasari Bagikan Tips Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Komunikasi Ortu dan Anak Saat WFH

sumber : ipb.ac.id/news

Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) pada sebagian besar kita telah memasuki bulan kedua dan entah akan sampai kapan kita harus tetap #dirumahaja sebagai ikhtiar bersama untuk melawan penyebaran COVID-19. Orang tua dan anak pun mulai butuh melakukan penyesuaian. Bagi anak sendiri, seminggu atau dua minggu di rumah mungkin masih belum terasa.

Tetapi, ketika semakin panjang periode SFH maka anak-anak yang secara alamiah terdorong untuk bergerak bebas, bermain bersama teman-teman, menghabiskan waktu untuk mencoba banyak hal bersama guru dan teman-teman di sekolah akan dilanda kebosanan bahkan mulai rewel. Orang tua pun mulai stress menghadapi anak di rumah karena adanya tuntutan menyelesaikan pekerjaan dari kantor dan tugas dari sekolah (mendampingi anak mengerjakan tugas-tugas). Orang tua juga seringkali harus mengalami kenaikan tensi emosi karena harus berhadapan dengan segala macam tingkah laku anak-anak 24 jam sehari, 7 hari seminggu full-time.

Menurut Alfiasari, SP, MSi, Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, WFH justru bisa menjadi titik balik untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas interaksi antara orang tua dan anak.

“Momen #dirumahaja, yang seharusnya bisa menjadi momen yang menjawab harapan orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak justru membuat kualitas interaksi orang tua dengan anak malah menurun. Salah satu kunci utama dalam menjaga interaksi yang sehat antara orang tua dengan anak adalah komunikasi. Semakin baik komunikasi yang terbangun antara orang tua dengan anak ternyata juga semakin mengembangkan kemampuan komunikasi anak dan meningkatkan kemampuan anak membangun komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ini adalah modal yang penting bagi anak untuk masa depannya,” ujarnya.

Ada beberapa tips agar komunikasi orang tua dengan anak terjalin dengan baik, yakni pandanglah WFH sebagai anugerah yang patut disyukuri karena kita dapat melihat tumbuh kembang anak sepanjang waktu. Jadikanlah kesempatan #dirumahaja untuk sejenak merenung dan berdiskusi dengan pasangan apa tujuan jangka panjang yang ingin dicapai orang tua untuk anak-anaknya.

Di antara waktu WFH dan SFH, kita bisa melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Misalnya sholat berjama’ah, do’a bersama, olahraga bersama, makan bersama, menghabiskan waktu bersama untuk bermain musik, memasak, merapikan rumah, berkebun, merawat hewan peliharaan, dan kegiatan bersama lainnya.  “Carilah waktu untuk sekedar mengobrol ringan tentang apa yang dirasakan orang tua (rasa khawatir sekaligus rasa pasrah menghadapi masa-masa sulit ini) dan ajaklah anak berdiskusi apa yang dia rasakan. Hargailah apapun yang anak rasakan. Bangunlah sikap optimisme untuk selalu semangat meskipun hanya bisa #dirumahaja,” ujarnya.

Selain itu, optimalkan segala bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal selama #dirumahaja bersama anak-anak kita. Banjirilah anak sepanjang hari dengan pelukan, belaian lembut, senyuman, ucapan terima kasih atas hal-hal kecil yang dilakukannya, ucapan maaf jika orang tua melakukan kesalahan, dan juga ucapan tolong untuk meminta pertolongan anak. Selama ini kita sudah cukup puas berinteraksi dengan anak melalui beragam perangkat teknologi. Gunakan waktu #dirumahaja untuk mendekatkan secara fisik hubungan orang tua dengan anak.

“Optimalkan penggunaan ekspresi wajah, nada bicara, intonasi maupun volume suara sehingga proses komunikasi menjadi lebih menyenangkan. Jadikan kesempatan #dirumahaja untuk meningkatkan keterampilan orang tua dalam menyeimbangkan kontrol dan kehangatan. Banyak pakar perkembangan anak yang sepakat bahwa teknik terbaik dalam pengasuhan adalah ketika orang tua berhasil menyeimbangkan antara kontrol perilaku dengan kehangatan. Anak perlu belajar keteraturan hidup, belajar bahwa dunia ini akan bekerja jika semua orang mematuhi norma-norma kehidupan. Namun jangan dilupakan bahwa kebutuhan dasar anak yang seringkali dilupakan orang tua adalah anak-anak membutuhkan kehadiran, kehangatan, dan kasih sayang tanpa syarat dari orang tuanya.

Anak dicintai bukan karena kehebatan dan kepintarannya, tapi anak pantas dicintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Practice makes perfect. Kita tidak pernah diajarkan tentang bagaimana menjadi orang tua. Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan #dirumahaja untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan untuk terus berusaha menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya,” imbuhnya.

Jadikan emosi negatif anak sebagai kesempatan kita untuk membangun kedekatan dengan anak. Yang terpenting adalah orang tua harus cukup terampil mendampingi anak untuk mengelola emosi-emosi negatif tersebut. Bantulah anak menyalurkan beragam emosi negatif yang muncul dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat yang disukainya.
Kesibukan kita dalam mengatur waktu untuk bekerja, membantu anak-anak mengerjakan tugas sekolah, melakukan kegiatan-kegiatan kerumahtanggaan, bahkan mungkin masih ada orang tua yang masih merelakan waktu yang dimilikinya untuk membantu orang lain, dapat membantu meningkatkan rasa penghargaan dan rasa bersyukur anak terhadap orang tuanya. Keteladanan ini merupakan cara yang sangat efektif untuk membantu menyosialisasikan dan meneruskan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.

“Bantulah anak memahaminya dengan memberikan penjelasan atas setiap kegiatan yang dilakukan orang tua. Selipilah dengan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bekal bagi kehidupan anak di masa depan,” ujarnya.

Terakhir, jadikanlah kesempatan #dirumahaja untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah baik untuk orang tua maupun untuk anak. Ini adalah kesempatan untuk melatih anak mengenali masalah yang dihadapi misalnya kebosanan, kesulitan mengatur waktu mengerjakan tugas sekolah. Kita bisa membantu anak agar anak secara bertahap dan mandiri mampu memikirkan beragam alternatif solusi dan kemudian menimbang baik dan buruk setiap solusi yang dimiliki. Selanjutnya kita bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk berani memilih solusi terbaik dan kemudian melatih anak bertanggung jawab atas konsekuensi dari solusi yang dipilih. Kesempatan ini juga akan membantu orang tua mengembangkan banyak keterampilan dalam berkomunikasi dengan anak.

“Harapannya, tips ini bisa dilakukan orang tua agar kesempatan #dirumahaja menjadi momen berharga dan menjadi kenangan indah bagi anak-anak dan juga orang tua,” tandanya. (dh/Zul)

-Membumi dan Mendunia-

Dr Siti Amanah Berikan Tips Siap dan Mampu Mengelola Perubahan

sumber : ipb.ac.id/news

Tidak ada sesuatu yang permanen, kecuali perubahan, begitu ungkapan para filosof. Wabah COVID-19 telah mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan. Diperlukan kemampuan kita agar siap dan mampu mengelola perubahan.

Pandemi COVID-19 membawa dampak perubahan pada masyarakat yang diharap hanya sementara, ibarat sekedipan mata. Lockdown, karantina, kacaunya rantai suplai logistik dan lainnya, merupakan sinyal dari sebuah komunitas yang mengalami pelambatan dari sebuah moda kecepatan tinggi.

Dr Siti Amanah, dosen dari Divisi Komunikasi dan Penyuluhan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University menyampaikan lima tips agar kita siap dan mampu mengelola perubahan.

Pertama, senantiasa terbuka akan perubahan, hindari praduga atau pikiran negatif. Hal ini memudahkan kita melalui berbagai situasi dan memberikan energi positif untuk melangkah ke depan. Kedua, buat rencana aksi nyata untuk kurun waktu tertentu, setidaknya satu sampai dengan tiga tahun. Rencana hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek termasuk sistem, struktur, sumber daya, tingkat dukungan serta kendala dalam realisasi rencana.

“Mengidentifikasi dan melibatkan pihak-pihak terkait dalam perubahan. Hal ini untuk memastikan perubahan berjalan lancar dan bermanfaat bagi individu, keluarga, kelompok, organisasi dan masyarakat luas. Keempat, memperjelas tahapan dan mekanisme perubahan.  Hal ini diperlukan  agar seluruh unsur dalam sistem atau organisasi mengerti “aturan main”, sehingga aksi terwujud sesuai harapan. Kelima memonitor dan mengevaluasi perubahan yang dicapai secara terus menerus. Hal ini dikarenakan setiap rencana perlu dilaksanakan, dimonitor, dievaluasi dan ditindaklanjuti,” ujarnya. (Awl/Zul)

 

-Membumi dan Mendunia-

Prof Euis Sunarti: Anda Bosan di Rumah, Begini Cara Mencegahnya

sumber : ipb.ac.id/news

Prof Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, IPB University sekaligus Ketua Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia menyebutkan bahwa kebosanan muncul pada sebagian keluarga saat satu atap atau saat di rumah saja karena sifat pasif.

Mengapa sebagian keluarga merasakan kebosanan hidup satu atap bersama keluarga? Jawaban yang seringkali muncul adalah karena tidak memperoleh atau tidak mendapatkan, atau tidak “menemukan” hal yang menarik perhatian yang dirasa menyenangkan dalam kehidupan keluarga di rumah.

“Sehingga solusinya mudah jika tidak ingin merasa bosan, yaitu ubah menjadi bersifat aktif. Kunci agar anggota keluarga memiliki perilaku aktif tersebut berkaitan dengan “value atau nilai” tentang keluarga. Seberapa penting keluarga bagi seseorang? Seberapa penting terbangunnya ikatan keluarga antar anggotanya? Seberapa penting waktu kebersamaan antar keluarga? Seberapa penting membangun suasana yang sehat dan membahagiakan di keluarga,” ujarnya.

Jadi, bagaimana anggota keluarga mencari, menggali, mengembangkan, menciptakan aktivitas yang menyenangkan dan atau yang menarik perhatian dalam rutinitas kehidupan keluarga.

Menurut Prof. Euis Sunarti, ada delapan tips mencegah kebosanan “dirumah_ aja” saat wabah COVID-19. Yakni ubah nilai dan cara pandang. Jadikan kesempatan “dirumah_ aja” sebagai moment berharga untuk keluarga menemukan jati dirinya, untuk tumbuh dan tumbuh dan berkembang. Kedua, bangun kesadaran berharganya keluarga dan waktu kebersamaan keluarga. Ketiga, perluas ruang dan irisan komunikasi antar anggota keluarga, sehingga banyak hal yang bisa diceritakan, diobrolkan dan didiskusikan dalam keluarga.

“Bangun suasana keterbukaan antara anggota keluarga dan lakukan hal-hal atau aktivitas yang meningkatkan kebersamaan. Kelima periksa dan tambal bolong-bolong tugas perkembangan keluarga dan tugas perkembangan setiap individu. Keenam, dorong minat dan hoby anggota keluarga dan atau menumbuhkan kepeminatan baru  seperti memfoto, memasak, menjahit, buat disain grafis, buat menulis, berkebun, dan lain-lain,” ujarnya.

Selain itu, ekspresikan semangat, kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan dalam mengerjakan rutinitas sehari-hari (menularkan energi positif agar sabar bertahan bersama, walau ada situasi yang tidak menarik dan menyenangkan). Dan berusaha mengembangkan humor, saling apresiasi dan penerimaan terhadap aktivitas yang dilakukan anggota keluarga. “Hindari hal-hal negatif seperti acuh-cuek, menyepelekan atau kritik berlebihan,” tandasnya. (dh/Zul)

 

-Membumi dan Mendunia-