
Save Our Children
Sebagai pengelola resmi situs (baca: admin) FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA IPB, sudah menjadi tugas saya untuk berjelajah ke situs/web/blog terkait untuk mencari dan berbagi informasi. Seperti biasa, pagi ini saya berkunjung ke blog Mas Jauhari (baca: designer blog fema) sebagai kunjungan rutin, dan saya cukup dikejutkan dengan artikel yang ditulisnya, juga artikel-artikel lain yang senada seperti yang ditulis oleh Budi Putra, Venus, Leonnie FM, acha, Fajar Jasmin dan banyak lagi yang menuliskan tentang hal ini.
Mereka ramai-ramai membicarakan (baca: mengkritisi) tentang kesalahan yang dilakukan oleh DepDikNas RI yang telah menyediakan data sekitar 36 juta siswa/pelajar Indonesia secara online. Data yang dibuat mulai dari jenjang SD hingga Perguruan Tinggi berisi informasi secara lengkap nama siswa, tanggal lahir, nomer induk dan alamat tinggal. Data tersebut dengan mudah dapat didownload oleh siapa saja. Lalu kekhawatiran apa yang dapat muncul dengan adanya tindakan tersebut, kira-kira inilah pandangan para pengamat:
Bayangkan ini: dengan mengetahui nama lengkap seseorang, siapa pun tau, kita bisa melakukan banyak hal. Mencari alamat jurnal pribadinya (baca: blog), alamat flickr, friendster, facebook, dan sekian banyak layanan jejaring sosial lainnya. Apa susahnya? Berterima kasihlah kepada Google (dan mesin-mesin pencari lain) yang membuat semua jadi begitu mudah.
Udah kebayang? Sekarang tambahkan ini: nama lengkap PLUS alamat lengkap, dan….selamat! Kita telah dengan penuh kesadaran mengekspos anak-anak itu, menyerahkan keselamatan mereka hanya kepada faktor keberuntungan, barangkali. Dengan sangat gampang, seseorang, siapa pun itu, memiliki akses untuk menemukan mereka dan menjadikan mereka target operasi para pelaku kejahatan. Pedofil, penculik, pemerkosa, pembunuh, you name it. (Venus)
Jangan biarkan tangan-tangan tak bertanggung jawab memiliki akses untuk menyentuh anak-anak kita. Jangan biarkan negeri ini menjadi tanah impian bagi penculik dan peleceh anak. (Leonnie FM).
The government’s blunder just confirmed one thing: the government officers have lack of capacity and capability in optimizing the new media benefit. They might have a good intent to put online a complete database (”took giant leaps to bridge the digital divide“), but didn’t aware about privacy and security. How could they published the complete addresses and details (even the date of births) in their website? (Budi Putra)
Lalu bagaimana pandangan mereka?
Spread the news, people. Mari lakukan sesuatu untuk melindungi anak-anak kita. Sekarang (Venus)
Saya tidak ingin bersikap negatif, namun saya yakin bahwa anak-anak sudah layak dan sepantasnya mendapat perlindungan maksimal dan dijauhkan dari pertukaran data secara tidak perlu seperti yang dilakukan oleh Depdiknas. Jika dalam pandangan Depdiknas, data itu perlu dipertukarkan, maka sudah seharusnya mereka memikirkan cara yang jauh lebih aman dan sepatutnya agar hanya dapat diakses oleh yang sungguh-sungguh berkepentingan. (Leonnie FM)
If you do care about the security and safety of the kids, please raise this issue in your community as well. Let’s not be silent and watch this country become a dream for kidnappers and child molesters …! (Fajar Jasmin)
Yang jelas saya mau bilang: HENTIKAN DATA SISWA INDONESIA ONLINE! (Acha)
Lalu, bagaimana menurut Anda? Tentu kita sepakat untuk turut SAVE OUR CHILDREN TO SAVE OUR NATION. (ms)













DepDikNas RI yang telah menyediakan data sekitar 36 juta siswa/pelajar Indonesia secara online dengan maksud untuk memudahkan proses registrasi data atau untuk memudahkan dalam mengatur dan mengakses data para pelajar jika suatu waktu dibutuhkan. akan tetapi kemudahan yang disediakan tersebut disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga membuat kerugian bagi pelajar, karena data-data mereka disalah gunakan.