Pola Asuh Makan dan Kesehatan pada Rumah Tangga yang Tahan dan Tidak Tahan Pangan

Judul Lengkap: Pola Asuh Makan dan Kesehatan pada Rumah Tangga yang Tahan dan Tidak Tahan Pangan serta Kaitannya dengan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.

Oleh: Rizma Ariefiani, Dibimbing oleh : Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari pola asuh makan dan kesehatan serta kaitannya dengan status gizi anak balita pada berbagai tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Tujuan khusus penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi karakteristik keluarga anak balita dan tingkat ketahanan pangan rumah tangga; (2) mengidentifikasi pola asuh makan dan kesehatan anak balita, (3) mengidentifikasi konsumsi energi dan protein anak balita, (3) mengidentifikasi status kesehatan anak balita, (4) mengidentifikasi status gizi anak balita, (5) menganalisis hubungan antara pola asuh, konsumsi pangan dan status kesehatan dengan status gizi anak balita, (6) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi anak balita.

Desain penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian ini merupakan bagian dari studi Kajian Ketahanan Pangan dan Alokasi Sumberdaya Keluarga serta Keterkaitannya dengan Status Gizi dan Perkembangan Anak di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Responden adalah ibu yang memiliki anak berumur 24-60 bulan, sedangkan contoh adalah anak dari responden yang pada saat pengambilan data berumur 24-60 bulan. Contoh berasal dari dua kecamatan yang dipilih secara purposive, yaitu Kecamatan Pejawaran dan Kecamatan Punggelan. Pada setiap kecamatan, dipilih tiga desa yang sesuai dengan kondisi umum kecamatan. Setiap desa diambil 50 contoh dengan metode simple random sampling. Total contoh pada penelitian ini adalah 300 contoh (6 desa).

Data primer terdiri dari karakteristik anak balita, karakteristik keluarga, tingkat ketahanan pangan rumah tangga, pola asuh makan dan kesehatan, status kesehatan anak balita, antropometri anak balita dan konsumsi pangan anak balita dengan recall 2×24 jam. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari kantor kecamatan lokasi penelitian. Data diolah dengan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS 13.0 for Windows. Analisis statistik yang dilakukan, yaitu uji ANOVA, uji Spearman dan uji Regresi Logistik dengan metode Backward Wald. Sebagian besar (59.3%) keluarga anak balita merupakan keluarga kecil (≤4 orang). Orangtua anak balita masih dalam usia produktif, yaitu rata-rata 34.7 tahun untuk ayah dan 30.0 tahun untuk ibu. Rata-rata lama pendidikan ayah dan ibu adalah 6.4 tahun dan 6.8 tahun atau setara dengan lulusan SD. Sebagian besar ayah (52.9%) bekerja sebagai petani/peternak/berkebun, sedangkan ibu (45.7%) tidak bekerja (ibu rumah tangga). Berdasarkan kategori BPS (Rp 146 531/kap/hari), keluarga anak balita yang miskin sebanyak 39.0 persen. Jumlah keluarga miskin di Kecamatan Pejawaran lebih banyak daripada Kecamatan Punggelan. Akses ibu terhadap informasi dan pelayanan gizi dan kesehatan pada umumnya baik dengan rata-rata skor sebesar 81.2 persen, sedangkan pengetahuan gizi ibu tergolong kurang dengan rata-rata skor sebesar 44.1 persen. Sebagian besar (37.3%) rumah tangga tergolong sangat tidak tahan pangan (TKE <70%) berdasarkan cut off point jumlah kalori rumah tangga. Jumlah rumah tangga sangat tidak tahan pangan di Kecamatan Pejawaran lebih banyak daripada Kecamatan Punggelan.

Pola asuh makan anak balita pada umumnya tergolong kurang dengan rata-rata skor sebesar 49.0 persen, sedangkan pola asuh kesehatan anak balita tergolong sedang dengan rata-rata skor sebesar 73.1 persen. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa rata-rata skor pola asuh makan dan kesehatan anak balita pada rumah tangga sangat tidak tahan pangan (44.9% dan 72.1%) paling rendah dibandingkan rumah tangga tidak tahan pangan (50.8% dan 73.0%) dan rumah tangga tahan pangan (51.9% dan 74.4%). Hal ini berarti pola asuh makan dan kesehatan anak balita pada rumah tangga tahan pangan lebih baik daripada rumah tangga tidak tahan pangan. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara pola asuh makan balita (p<0.05), namun tidak ada perbedaan yang nyata pola asuh kesehatan (p>0.05) pada ketiga kelompok rumah tangga.

Konsumsi energi dan protein anak balita meningkat seiring dengan meningkatkan tingkat ketahanan pangan rumah tangga. Rata-rata konsumsi energi dan protein anak balita pada rumah tangga sangat tidak tahan pangan (874 kkal dan 22.4 g) paling rendah dibandingkan rumah tangga tidak tahan pangan (973 kkal dan 25.8 g) dan rumah tangga tahan pangan (1098 kkal dan 25.8 g). Berdasarkan tingkat kecukupan energi dan protein, ditemukan lebih dari 30.0 persen anak balita pada rumah tangga sangat tidak tahan pangan dan tidak tahan pangan yang mengalami defisit energi dan protein tingkat berat (<70%). Hal ini diduga berkaitan dengan pola asuh makan yang kurang baik, sehingga anak balita cenderung lebih banyak mengkonsumsi makanan jajanan yang rendah zat gizi daripada makanan di rumah. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara konsumsi energi (p<0.01) dan protein (p<0.01) anak balita pada ketiga kelompok rumah tangga. Pada umumnya (81.3%) anak balita pernah mengalami sakit dengan frekuensi sakit sebanyak ≥3 kali (49.2%) dan selama >14 hari sakit (38.1%) dalam tiga bulan terakhir. Jenis penyakit yang paling banyak diderita adalah panas/demam (67.2%). Uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antara frekuensi sakit (p>0.05) dan lama sakit (p>0.05) anak balita pada ketiga kelompok rumah tangga. Prevalensi anak balita underweight dan stunting sebesar 32.0 persen dan 54.3 persen, sehingga masalah kesehatan masyarakat di daerah penelitian tergolong sangat tinggi.

Prevalensi anak balita wasting sebesar 11.6 persen, sehingga masalah kesehatan masyarakat di daerah penelitian tergolong tinggi. Jika dilihat berdasarkan kelompok rumah tangga, prevalensi anak balita underweight dan stunting pada rumah tangga sangat tidak tahan pangan (47.3% dan 67.0%) paling tinggi dibandingkan rumah tangga tidak tahan pangan (42.1% dan 56.8%) dan rumah tangga tahan pangan (3.3% dan 36.6%). Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara status gizi anak balita indeks BB/U, TB/U dan BB/TB (p<0.01) pada ketiga kelompok rumah tangga.

Uji Spearman menunjukkan bahwa status gizi (BB/U dan TB/U) berhubungan nyata dengan pola asuh kesehatan (p<0.05 dan p<0.01), namun status gizi (BB/U, TB/U dan BB/TB) tidak berhubungan nyata dengan pola asuh makan (p>0.05), tingkat kecukupan energi dan protein (p>0.05), serta frekuensi sakit dan lama sakit (p>0.05). Uji Regresi Logistik menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi malnutrisi global (BB/U) adalah pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pengetahuan gizi ibu, ketahanan pangan rumah tangga dan tingkat kecukupan protein anak balita; faktor-faktor yang mempengaruhi malnutrisi kronik (TB/U) adalah pekerjaan ayah, ketahanan pangan rumah tangga, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan; faktor-faktor yang mempengaruhi malnutrisi akut (BB/TB) adalah usia ibu, pekerjaan ayah, status sosial ekonomi keluarga, ketahanan pangan rumah tangga dan tingkat kecukupan energi anak balita.

happy wheels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>