LLogo FEMA43 115x110 Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik atlet, tingkat kecukupan gizi, status gizi, dan tingkat kebugaran atlet sepakbola SMA Ragunan Jakarta. Tujuan khusus penelitian ini antara lain: 1) mengetahui karakteristik sosiofisik atlet sepakbola, 2) mengetahui pengetahuan gizi atlet sepakbola SMA Ragunan, 3) mengetahui status gizi atlet sepakbola SMA Ragunan, 4) mengetahui tingkat kecukupan zat gizi atlet sepakbola, 5) mengetahui tingkat kebugaran pada atlet sepakbola SMA Ragunan, dan 6) menganalisis hubungan antara tingkat kecukupan energi, status gizi dengan tingkat kebugaran (VO2 max).

Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2009 di SMA Ragunan Jakarta Selatan. Pemilihan tempat dilakukan secara purposive karena SMA Ragunan merupakan sekolah pendidikan dan pembinaan atlet khususnya atlet sepakbola Atlet sepakbola ditentukan secara purposive sampling dengan kriteria: 1) siswa SMA Ragunan Jakarta Selatan baik itu kelas I, II, dan III, 2) siswa yang menerima pembinaan dan pendidikan dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) di cabang sepakbola, dan 3) tidak sedang mengalami cidera dan tidak mempunyai masalah dengan pihak-pihak tertentu terutama institusi sekolah. Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh jumlah atlet sepakbola adalah 22 atlet sepakbola dari 24 atlet sepakbola.

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik atlet sepakbola, pengetahuan gizi, karakteristik antropometri (tinggi badan, berat badan, dan lemak tubuh), konsumsi pangan, dan tingkat kebugaran (denyut jantung maksimum dan tingkat aktivitas Skala Borg). Data sekunder meliputi nilai VO2 max yang diukur dengan Balke Test, gambaran umum sekolah, dan jumlah siswa SMA Ragunan. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell 2007 dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) versi 16.0. Hubungan antar variabel diuji dengan menggunakan uji korelasi Pearson dan uij beda dengan menggunakan ANOVA.

Usia atlet sepakbola berkisar antara 15-18 tahun dengan persentase tertinggi (45.5%) berusia 15 tahun. Lebih dari separuh atlet sepakbola (68.2%) masih berada di kelas I dan suku atlet sepakbola terbanyak adalah suku betawi (22.7%). Ada empat posisi bermain dalam sepakbola dan dalam penelitian ini, posisi pemain tengah adalah posisi yang memiliki persentase tertinggi (36.4%). Karakteristik antropometri yang diukur meliputi berat badan, tinggi badan, dan persentase lemak tubuh. Rata-rata berat badan dan tinggi badan terbesar dimiliki atlet sepakbola dengan posisi bermain sebagai kiper yaitu 70.3 kg dan 177.3 cm. Rata-rata persentase lemak tubuh yang terkecil juga dimiliki atlet sepakbola dengan posisi sebagai kiper yaitu 14.3%. Hasil uji ANOVA menunjukkan berat badan mempunyai perbedaan yang nyata dengan posisi bermain yaitu kiper mempunyai berat badan yang lebih besar daripada pemain tengah dan pemain depan (p<0.05). Hasil uji ANOVA menunjukkan tinggi badan mempunyai perbedaan yang nyata dengan posisi bermain yaitu kiper mempunyai tinggi badan yang lebih tinggi daripada pemain belakang, pemain tengah, dan pemain depan (p<0.05). Hasil uji ANOVA tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara persentase lemak tubuh dengan posisi bermain (p>0.05).

Pada umumnya, pengetahuan gizi atlet sepakbola masih tergolong kategori rendah (40.9%) dan sebagian besar (90.9%) status gizi atlet sepakbola adalah normal. Rata-rata konsumsi energi atlet sepakbola adalah 2570 Kal dengan lebih dari separuh atlet sepakbola (59.1%) mempunyai tingkat kecukupan energi kategori normal. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan tingkat kecukupan energi (p>0.05, r=0.155). Sebagian besar atlet sepakbola mempunyai tingkat kecukupan protein dengan kategori normal (59.1%). Sebagian besar (72.7%) tingkat kecukupan karbohidrat atlet sepakbola berada dalam kategori lebih dari 70% dari angka kebutuhan energi, sedangkan lebih dari separuh atlet sepakbola mempunyai tingkat kecukupan lemak dengan kategori kurang dari 20% dari angka kebutuhan energi. Untuk tingkat kecukupan mineral dan vitamin, sebagian besar atlet sepakbola mempunyai tingkat kecukupan yang baik (cukup) dengan rincian yaitu tingkat kecukupan kalsium (86.4%), tingkat kecukupan Fe (72.7%), tingkat kecukupan vitamin A (63.6%), dan tingkat kecukupan vitamin C (54.5%).

Tingkat kebugaran atlet sepakbola diukur dengan tiga metode yaitu pengukuran VO2 max, skala Borg, dan denyut jantung. Pada pengukuran VO2 max, sebagian besar (86.4%) atlet sepakbola memiliki nilai VO2 max di bawah nilai standar yaitu 54-64 ml/kg/menit. Rata-rata nilai VO2 max tertinggi dimiliki atlet sepakbola dengan posisi sebagai pemain depan yaitu 50.8 ml/kg/menit.

Hasil uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antara nilai VO2 max dengan posisi bermain atlet sepakbola (p>0.05) dan hasil uji korelasi Pearson menunjukkan hasil hubungan positif yang tidak signifikan antara persentase lemak tubuh atlet sepakbola dengan nilai VO2 max (p>0.05, r=0.401). Pada pengukuran dengan menggunakan skala Borg, atlet sepakbola diberikan 10 pertanyaan yang berhubungan dengan aktivitas atau latihan sepakbola. Skala yang digunakan adalah skala 6-20 dan nilai acuan skala dari setiap pertanyaan merupakan nilai rata-rata skala yang diberikan semua atlet sepakbola. Hasilnya menunjukkan adanya variasi tingkat kebugaran atlet sepakbola dari berbagai aktivitas yang ditanyakan. Pada pengukuran denyut jantung, atlet sepakbola terlebih dahulu harus diketahui denyut jantung maksimum (DJM) dengan cara mengurangi angka 220 dengan usia atlet sepakbola. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar atlet sepakbola (45.5%) mempunyai DJM 205 kali per menit. Tingkat kebugaran atlet sepakbola diukur berdasarkan denyut jantung pada saat istirahat dan pada saat bertanding/latihan. Lebih dari separuh atlet sepakbola (72.8%) mempunyai denyut jantung pada saat istirahat dengan kisaran antara 51-70 kali per menit. Denyut jantung atlet sepakbola pada saat bertanding dibandingkan dengan zona latihan 60-80% dari DJM dan hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua atlet sepakbola (90.9%) mempunyai denyut jantung di bawah range 60% dari DJM.

Hasil uji korelasi Pearson antara usia atlet sepakbola dengan tingkat kebugaran (VO2 max) menunjukkan hubungan positif yang tidak signifikan (p>0.05, r=0.187). Hasil uji korelasi Spearman antara tingkat kecukupan energi dengan status gizi menunjukkan hubungan yang signifikan (p<0.05, r= -0.437).

Hasil uji korelasi Spearman antara status gizi dengan tingkat kebugaran (VO2 max) menunjukkan hubungan yang tidak signifikan (p>0.05, r= -0.275) dan hasil uji korelasi Pearson antara tingkat kecukupan energi dengan tingkat kebugaran (VO2 max) menunjukkan hubungan yang signifikan (p<0.05, r=0.472).

Share this:print Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.email Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.facebook Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.5google Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.0stumbleupon Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.0twitter Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.0diggit Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.reddit Hubungan Antara Karakteristik Atlet, Tingkat Kecukupan Gizi, dan Status Gizi dengan Tingkat Kebugaran Atlet Sepakbola di SMA Ragunan Jakarta Selatan.0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *