Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi, Pola Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Gizi Pendaki Gunung

Judul Lengkap: Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi, Pola Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Gizi Pendaki Gunung di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Oleh: Jesa Nuhgroho, Dibimbing oleh Dr. Ir. Hadi Riyadi, M.S. dan dr. Mira Dewi, M.Si.

Olahraga pendakian gunung termasuk dalam kategori aktivitas yang sangat berat (Soerjodibroto 1984). Untuk itu diperlukan kesegaran jasmani, daya tahan tubuh yang prima, serta keseimbangan asupan zat gizi serta elektrolit yang cukup. Energi  untuk otot berkontraksi diperoleh dari pengubahan kimia menjadi tenaga mekanis. Energi untuk melakukan aktivitas olahraga ini berasal dari Adenosine triphosphate (ATP). Jumlah ATP yang dibutuhkan dalam proses tersebut berasal dari asupan makanan. Oleh karena itu, kualitas dan kuantitas makanan sangat mempengaruhi hal ini. Pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan para pendaki.

Tujuan umum dari penelitan ini adalah untuk melihat gambaran umum pola konsumsi dan tingkat kecukupan gizi pendaki gunung di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi karakteristik pendaki gunung dari segi umur, pekerjaan, pengalaman pendakian, dan tingkat pendidikan, (2) Mengetahui tingkat pengetahuan gizi para pendaki gunung tentang pola konsumsi, (3) Mengetahui pola konsumsi pangan seperti karbohidrat, protein, dan lemak, (4) Menilai konsumsi karbohidrat, protein, dan lemak sebagai sumber energi, (5) Mengetahui tingkat kecukupan energi, protein, dan lemak para pendaki gunung yang diteliti, dan (6)  Mengetahui status gizi para pendaki Desain penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional study dengan metode wawancara terstruktur. Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Gunung  Gede Pangrango yang terletak di wilayah Cianjur, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan April sampai Mei 2009. Populasi pada penelitian ini adalah para pendaki gunung di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sampel penelitian ini diambil secara purposive dengan persyaratan sebagai berikut: usia antara 15-35 tahun, mendaki Gunung Gede, perjalanan pendakian melalui jalur Cibodas atau jalur Gunung Putri dan turun melalui jalur Cibodas, berjenis kelamin laki-laki, serta bersedia diwawancarai. Data primer meliputi karaterisik responden (tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, pengalaman mendaki), jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi selama pendakian, serta pengetahuan pendaki tentang zat gizi. Data sekunder berupa profil mengenai  Taman Nasianal Gunung Gede Pangrango yang didapatkan dari kantor pusat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, Jawa Barat.

Data primer yang telah didapatkan kemudian di analisis secara statistik. Tahapan pengolahan data dimulai dari pengkodean, pemasukan data, pengecekan ulang dan selanjutnya dilakukan analisis. Tahapan analisis data diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excell dan Statistical Program for Social Sciences (SPSS) versi 13.0.

Usia sampel berkisar antara 16 sampai 33 tahun, dengan usia paling banyak berkisar antara 18 sampai 30 tahun sebanyak 86%. Sebanyak 59% sampel memiliki IMT normal atau memiliki status gizi baik. Namun, ada 8% sampel yang termasuk kategori obes I. Selain itu, ada 17% sampel yang termasuk kategori kurus. Terdapat pula sebanyak 16% sampel yang termasuk kategori At Risk. Sebanyak 62 % sampel makan 3 kali sehari. Selain itu, terdapat pula 4% sampel yang masing-masing memiliki frekuensi makan hanya 1 kali dan lebih dari 4 kali sehari. Terdapat pula 16% sampel yang memiliki frekuensi makan sebanyak 2 kali sehari serta 14% sampel yang memiliki frekuensi makan sebanyak 4 kali sehari.

Sebanyak 43% sampel memiliki frekuensi makan sebanyak 3 kali dalam sehari selama masa pendakian. Selain itu, terdapat pula 33% sampel yang memiliki frekuensi makan sebanyak 2 kali sehari. Namun, ada 4% sampel yang hanya makan 1 kali perharinya selama masa pendakian. Sebanyak 65 % sampel memilih mie instan sebagai makanan pokok mereka selama kegiatan pendakian gunung. Selain mie instan, terdapat pula sebanyak 27% sampel yang mengkonsumsi beras atau nasi sebagai makanan pokok. Namun ada pula 2% sampel yang hanya memakan lauk pauk saja, sama dengan kebiasaan sehariharinya.

Sebanyak 55% sampel yang mengkonsumsi biskuit atau crackers sebagai makanan selingan selama masa pendakian. Selain itu terdapat 30% sampel yang mengkonsumsi coklat sebagai makanan selingan selama perjalanan pendakian. Sisanya, sebanyak 8% sampel lebih suka mengkonsumsi permen serta 8% sampel lainnya mengkonsumsi gula merah sebagai makanan selingan. Sebanyak 53% sampel memiliki pengetahuan gizi yang kurang serta 43% sampel memiliki pengetahuan gizi cukup. Hanya 4% sampel yang memiliki pengetahaun gizi yang baik.

Tingkat kecukupan energi hari pertama, terdapat 61% sampel termasuk dalam kategori tingkat berat. Sedangkan sebanyak 21% sampel termasuk kategori defisit tingkat sedang dan 6% sampel termasuk dalam kategori deficit tingkat ringan. Terdapat sebanyak 10% sampel yang tingkat kecukupan energinya termasuk dalam kategori normal. Selain itu, terdapat pula sebanyak 2% sampel yang memiliki tingkat kecukupan energi lebih dari normal.

Tingkat kecukupan energi hari kedua, terdapat 16% sampel termasuk dalam kategori defisit tingkat berat. Sedangkan sebanyak 31% sampel termasuk kategori defisit tingkat sedang dan 14% sampel termasuk dalam kategori deficit tingkat ringan. Sampel yang termasuk dalam tingkat kecukupan energi kategori normal ada 35%. Selain itu, terdapat pula sebanyak 4% sampel yang memiliki tingkat kecukupan energi lebih dari normal.

Sebanyak 60% sampel memiliki tingkat kecukupan protein yang termasuk dalam kategori defisit tingkat berat dan 16% sampel termasuk dalam kategori defisit tingkat sedang. Sampel yang tingkat kebutuhan proteinnya termasuk dalam kategori normal hanya sebesar 14%, sedangkan sisanya sebanyak 10% sampel termasuk dalam kategori defisit tingkat ringan. Tingkat kecukupan protein hari kedua lebih baik dibandingkan tingkat kecukupan protein hari pertama. Sebanyak 37% sampel termasuk dalam kategori defisit tingkat ringan serta 30% sampel termasuk dalam kategori normal. Namun masih terdapat 20% sampel yang termasuk dalam kategori defisit tingkat berat dan 6% sampel yang termasuk dalam kategori defisit tingkat sedang. Terdapat pula sebanyak 8% sampel yang termasuk dalam tingkat kecukupan protein lebih. Rata-rata asupan lemak sampel pada hari pertama pendakian adalah sebesar 86,9 gram. Rata-rata asupan lemak sampel pada hari kedua pendakian sebesar 85,1 gram.

happy wheels

One thought on “Gambaran Tingkat Pengetahuan Gizi, Pola Konsumsi dan Tingkat Kecukupan Gizi Pendaki Gunung

  1. offshore bank account

    Sebuah moratorium yang efektif dapat memberikan waktu bagi pemerintah Indonesia – tentu saja dengan dukungan dari sektor industri dan lembaga swadaya masyarakat – untuk memperbaiki perencanaan penggunaan lahan dan proses mengeluarkan izin baru baik di kawasan hutan maupun areal penggunaan lain (APL), menciptakan sistem informasi yang memadai, serta membangun lembaga-lembaga yang dapat mendukung target Indonesia yang pro-growth dan pro-green . Target yang dinilai cukup ambisius ini termasuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen dan meningkatkan produksi kelapa sawit sebanyak dua kali lipat pada tahun 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>