Roadshow Sosialisasi Jurnal Agrokreatif dan Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat

Roadshow Sosialisasi Jurnal Agrokreatif dan Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia
🗓️ 15 Mei 2020
🕘 13.30 – 15.00 wib
📽️ Zoom only (ID tersedia pada grup WA)

Roadshow akan dimoderatori oleh
Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc selaku Editor Jurnal Agrokreatif dan Dosen Fema

dengan narasumber
Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. selaku WK-Bidang Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Dosen FPIK IPB

Dr. Ir. Indung Sitti Fatimah, M.Si selaku Dewan Editor Jurnal Agrokreatif dan Dosen FAPERTA IPB

Anna Cipta Resti Mauludyani, S.P., M.Gizi. selaku Dewan Editor JPIM dan Dosen FEMA IPB

Konfirmasi kehadiran: bit.ly/RoadshowJurnalAgrokreatif

 

-membumi dan mendunia-

Ngabuburit di Kafe Kini #2

Salam Ecologist !
Hidup Mahasiswa !

KINI yang kita lihat dan rasakan masa pandemi COVID-19 membatasi kegiatan masyarakat di luar rumah, pemerintah merespon dan memberlakukan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diharapkan dapat menanggulangi pandemi Covid-19 di Indonesia.
Pandemi selain mengancam kesehatan juga mengancam pendidikan kita seperti sekolah dan perkuliahan yang di jalankan dari rumah. Hal ini dapat menjadikan kualitas pendidikan menjadi turun salah satunya dengan tidak adanya kegiatan praktik. Beberapa keilmuan yang sangat terikat dengan kegiatan praktik ini menggunakan sarana dan prasarana di sekolah ataupun di kampus.

Dalam menjalankan pendidikan di rumah, kita menggunakan media seperti gawai dan laptop yang tersambung dengan Sinyal internet, tapi di beberapa daerah masih ada yang belum mendapatkan akses tersebut yang menjadikan Indonesia terlihat belum siap memasuki abad 21.

Berbagai polemik ini adalah ujian untuk kita dan hendaknya kita bisa mengambil sisi positif dari masa pandemi ini. Menjadikan berkegiatan di rumah di inisiasi dengan kegiatan produktif dan meningkatkan kapasitas diri. “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”
-Ki Hajar Dewantara-

Lalu, Bagaimana perspektif IKK terkait covid-19 ini?
Mari saksikan “Ngabuburit di KAFE KINI #2”
live on instagram BEM FEMA 📆 Jum’at, 8 Mei 2020
🕖 15.30-16.30 wib
📌 Instagram BEM FEMA 🎙️ Pembicara: Dr. Yulina Eva Riany, S.P., M.Ed. (Dosen Departemen IKK IPB)
🎙Moderator: Athaya Nadiya Asyhar “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”
-Tan Malaka-

Narahubung:
Muhammad Miftahul Farid Al-Huda
📞085376432328

#DirumahAja
#NgabuburitDiKafeKINI
#KAFE-KajianAsikFEMA

Terimakasih.
_____
KINI/KAD/011/151
Departemen Kajian Isu, Aksi Strategi dan Advokasi
BEM FEMA 2019/2020
@bemfema
#FEMATerasaManis
21h

 

-Membumi dan Mendunia-

KULIAH UMUM “MARKETING 4.0 DALAM PERSPEKTIF PERILAKU KONSUMEN DI MASA PANDEMIC COVID-19”

Akan dilaksanakan Kuliah Umum dengan tema Marketing 4.0 dalam Perspektif Perilaku Konsumen di Masa Pandemic Corona-19 pada Sabtu 9 Mei 2020. Kuliah ini akan diisi oleh Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan selaku Guru Besar Ilmu Perilaku Konsumen, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB.

Kuliah akan dilaksanakan secara virtual menggunakan Aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan langsung ddi IG TV @ujangsumarwan.

Bagi yang berminat, silahkan click di bawah ini untuk mendaftar Kuliah Umum Marketing 4.0 dalam Perspektif Perilaku Konsumen di Masa Pandemic Covid -19

Kuliah Umum dengan judul Marketing 4.0 dalam Perspektif Perilaku Konsumen di Masa Pandemic Covid -19

-membumi dan mendunia-

Sodality Call For Paper ; August 2020

Jurnal Sosiologi Pedesaan Sodality call for paper for August 2020.

The theme of paper is about sosiologi pedesaan, kelembagaan, transformasi sosial, perubahan sosial, kekuasaan, kewenangan, pemerintahan, konflik, kerjasama, kompetisi, interaksi sosial, relasi sosial, modal sosial, jejaring, norma, solidaritas sosial, agraria, pennguasaan lahan, konversi lahan, buruh  tani, nafkah, pedapatan, resiliensi, keretanan, strategi bertahan, gender, keluarga, rumah tangga, pembagian kerja, pertanian (dalam arti luas), pertambangan, partisipasi, pemberdayaan masyarakat.

Submit your paper in English to http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/index

Submission deadline : July, 1st 2020

Qualified articles in Bahasa will be translate by Sodality

 

Pelatihan E-Learning Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dalam Rangka Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020

Sedang berlangsung Pelatihan E-Learning Fakultas Ekologi Manusia IPB dalam ranga menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020.

Pelatihan ini bersifat umum sehingga dapat diikuti oleh siapapun secara GRATIS.

Silakan bagi ada yang tertarik untuk bergabung dapat mengakses pelatihan melalui webex  atau live Instagra @ujangsumarwan.

Pelatihan akan dilaksanakan pada pukul 8.00 hingga 11.45 WIB

 

-Membumi dan Mendunia-

PELATIHAN E-LEARNING Dalam Rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020

Yth Ibu dan Bapak yang berbahagia.
Menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020,
FEMA IPB University akan melakukan Pengabdian Masyarakat dengan Memberikan Pelatihan Elearning untuk umum
Silahkan daftar di https://fema.ipb.ac.id/index.php/e-learning-2/

Fakultas Ekologi Manusia is inviting you to a scheduled Zoom meeting.
Topic: FEMA Pelatihan ELearning Hari Pendidikan Nasional
Time: May 2, 2020 07:30-11.45 AM WIB
Join Zoom Meeting

Peserta akan mendapatkan sertifikat telah mengikuti pelatihan
Pertanyaan: Silahkan kirim ke fema@apps.ipb.ac.id atau pesan melalui WA ke 08121104989 (Ujang Sumarwan)
Terima Kasih

Ujang Sumarwan
FEMA Membumi dan Mendunia
Salam Konsumen Bijak dan Cerdas

Peluncuran Buku “Green Consumer and Marketing” dan E-Seminar Internasional “The Future of Green Marketing and Consumer”

Peluncuran Buku “Green Consumer and Marketing” dilaksanakan pada Senin 20 April 2020 dalam ajang E-seminar Internasional bertajuk “The Future of Green Marketing and Consumer”. E-seminar ini terlaksana berkat kerjasama AACIM bersama FEMA IPB, Faculty of Human Ecology UPM, FEB Unair, dan Victoria University of Wellington. Buku yang digagas oleh sedikitnya 33 pakar dan praktisi dibidang konsumen dan pemasaran ini terdiri dari 25 bab 480 halaman.

 

Buku tersebut ditulis dengan alasan bahwa para ahli konsumen dan pemasaran memiliki perhatian yang mendalam tentang perlunya menjaga lingkungan yang baik untuk keberlanjutan hidup konsumen dan masyarakat. “Kita menyadari bahwa selama ini kita merasakan dampak buruk dari lingkungan, yang salah satu penyebabnya adalah perilaku konsumen yang tidak memenuhi atau tidak menjaga lingkungan dengan baik,” ungkap Prof Ujang.

 

Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University mencontohkan bahwa perilaku konsumen yang merusak lingkungan adalah penggunaan plastik yang digunakan untuk berbagai macam kemasan dan dibuang sembarangan sehingga mengotori lingkungan. Demikian juga dengan perilaku konsumen yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan karena sampah bertebaran di mana-mana. Termasuk kerusakan lingkungan lainnya, seperti banjir dan longsor.

 

“Pada intinya adalah semua kerusakan ini karena perilaku konsumen, permintaan konsumen pada berbagai macam barang dan jasa yang sering kali itu berdampak buruk pada lingkungan. Oleh karena itu, sebagai praktisi di bidang konsumen, perlu untuk mengkampanyekan yang disebut dengan gerakan konsumen hijau,” tambah Prof Ujang.

 

Ia menjelaskan, gerakan hijau merupakan gerakan agar konsumen memerhatikan dampak buruk terhadap lingkungan ketika mengambil keputusan untuk membeli barang dan jasa atau hendak mengonsumsi barang dan jasa. Sementara itu, kampanye ini juga mendorong para produsen supaya memasarkan produknya dengan memerhatikan lingkungan, yaitu dengan memproduksi barang-barang hijau untuk merespon keberlanjutan lingkungan. Salah satunya adalah menggunakan bahan baku alami yang mudah terurai dengan cepat di alam.

 

“Sehingga pemasaran hijau ini tidak lain sebagai kepedulian produsen terhadap lingkungan. Ini juga menggambarkan record dari produsen untuk memenuhi kebutuhan konsumen hijau. Nah buku ini berisi kajian dari berbagai sudut pandang tentang pentingnya menjaga lingkungan,” ungkap Prof Ujang.

 

Prof Ujang menyebutkan, di dalam buku tersebut dibahas mengenai pengertian dari konsumen dan pemasaran hijau, hal-hal yang harus dilakukan oleh konsumen untuk menjadi konsumen hijau, hal-hal yang harus dilakukan oleh produsen untuk menjadi produsen hijau dan melakukan pemasaran hijau.

 

Konsumen dan pemasaran hijau, lanjutnya, sejalan dengan gerakan global yang disebut dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) yang memuat 17 tujuan. Salah satu tujuannya adalah tujuan nomor 12 yaitu keberlanjutan yang berkaitan dengan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Hal ini dapat diartikan sebagai kegiatan konsumsi dan produksi yang memerhatikan lingkungan dan menghindari dampak buruk kegiatan konsumsi dan produksi terhadap lingkungan.

 

Prof Ujang juga menjelaskan, buku ini ditulis oleh banyak penulis dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa IPB University bekerja dalam tataran nasional dan internasional. Buku ini juga menggambarkan tentang kolaborasi antar individu maupun institusi yang berbeda latar belakang.

 

“Melalui buku ini juga kita menunjukkan bahwa IPB University memiliki kepedulian terhadap konsumen dan pemasaran hijau. Kita sebagai inisiator yang mengajak para kolega. Oleh karena itu, buku ini ditulis dengan bahasa Inggris supaya dapat dibaca oleh banyak orang dari luar Indonesia,” tambah Prof Ujang.

Secara garis besar, buku tersebut ditulis sejak bulan Juni 2019 dengan diinisiasi oleh Fema IPB University dan berkolaborasi dengan Asian Association for Consumer Interests and Marketing (AACIM).

 

Dengan diterbitkannya buku tersebut, Prof Ujang berharap masyarakat dapat lebih memahami tentang pentingnya kepedulian kepada konsumen. Konsumen bisa berbuat hal yang kecil tetapi memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan, yaitu dengan menjadi konsumen hijau.

“Demikian juga dengan perusahaan, perusahaan dapat berbuat hal kecil tetapi memiliki dampak terhadap lingkungan, misalnya, mulai memikirkan bahan baku yang ramah lingkungan. Sementara konsumen harus memilih bahan-bahan yang ramah lingkungan, ini untuk keberlanjutan kesejahteraan konsumen dan perusahaan di masa yang akan datang,” pungkasnya

-Membumi dan Mendunia-

Sumber : kumparan.com

2018: Strengthening Rural Extension Services to Facilitate Community towards Sustainable Development Goals in Three Districts in Indonesia #SDGsIPB1 #SDGsIPB2 #SDGsIPB3 #SDGsIPB5 #SDGsIPB6

Rural areas in Indonesia vary in terms of socio-economics and cultural background, the landscape, physical climate, the resources, and the accessibility to extension services. Rural extension services play an important role in facilitating community development from on-farm to off farm activities. Rural extension systems have to address the increased demand for the services and to nd innovative approaches and strategies to facilitate community in the era of globalization. The paper aims to analyse the current status of rural extension systems in Indonesia, to analyse the role of stakeholders involved in extension systems, and to formulate plan and actions to strengthen rural extension systems. Assessment of rural extension systems was conducted by using a logical framework analysis models involving representatives from rural community groups and resource persons. Stakeholder dialogues and group discussions were conducted to gather information and to discuss the issues on rural extension. Data were analysed using stakeholders analysis to formulate strategy to strengthen rural extension systems. The results indicate that rural areas have shown changes in terms of socio-ecological aspects, land-uses, sources of income, and availability of resources. The changes are due to population increases that result in the need for more food, housing, education, jobs, and other public facilities. Community groups run small enterprise in rural areas for income generating activities. Engaging community and related stakeholders in the systems has positive effects for successful rural extension services. Stakeholder analysis showed that better collaborative extension services from service providers is needed to facilitate community. In terms of sustainable development goals, rural extension systems need the issues of food, health, water, gender, poverty and environment to be integrated into the services. Existing supports from local government, business sectors, civil society organizations, and universities are essentials to facilitate transformative changes in communities.