7 Tips Aman Menghadapi Pandemi Covid-19 #tips2

Korban Virus Corona semakin hari semakin meningkat, oleh karena itu mari kita tingkatkan kewaspadaan kita terhadap virus corona dengan hidup bersih dan sehat, serta patuhi himbauan pemerintah.

Inilah 7 Tips aman menghadapi pandemi virus corona dari dr. Mira Dewi, MSi, PhD Dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi  Manusia, IPB University.

  1. Jangan panik tetap tenang namun waspada dan hindari stress berlebihan
  2. Makan makanan bergizi seimbang, perbanyak buah dan sayur
  3. Konsumsi sumber protein bermutu tinggi seperti telur, daging, ayam, dan tempe
  4. Minum air putih setiap 30 menit sekali atau 8 gelas
  5. Olah raga rutin 30 menit sehari, 5 kali dalam seminggu (jalan kaki, bersepeda, dll)
  6. Dekatkan diri pada Yang Mahakuasa untuk tingkatkan kesabaran dan keikhlasan
  7. Taati ketetapan pemerintah, kenali gejala serta langkah penanganan sesuai panduan

-Membumi dan Mendunia-

Hindari Konflik Gara-Gara Corona

Bukan hanya korban jiwa, akhir-akhir ini virus corona mulai mengganggu kestabilan sosial masyarakat Indonesia. Tradisi dan budaya yang sudah terbangun sejak lama terpaksa dilupakan karena banyak masyarakat yang ketakutan akan tertular virus baru ini. Pemerintah memang menghimbau masyarakatnya untuk menjaga jarak satu sama lain dan mengehentikan aktifitas sosial yang beresiko menyebabkan kerumunan, akan tetapi sebagian masyarakat Indonesia justru menanggapinya dengan pengucilan hingga penolakan terhadap korban virus corona. Hal ini justru berdampak buruk bagi usaha pemerintah dan kita semua untuk menuntaskan virus corona, pasalnya banyak dari mereka yang positif corona lebih memilih untuk bungkam ketimbang mendapat “sangsi sosial”. Selain itu, hal tersebut juga beresiko menyebabkan konflik dalam masyarakat.

Maka, mari bersama kita berseru bahwa Virus Corona adalah musuh kita bersama dan kita semua adalah korban. Jadi, jangan sampai kita terpecahbelah dan konflik hanya karena Virus Corona.

Lalu apa yang harus kita lakukan??

Kita harus saling percaya bukan saling curiga. Gunakan dialog untuk mengatasi perbedaan pendapat.

Terhadap yang sudah terinfeksi virus corona, yuk…

  1. Jaga jarak saja, tidak perlu diusir dan dikucilkan
  2. Bantulah mereka secara moral dan material sesuai kebutuhan
  3. Ikuti prosedur pemakaman saja, jangan ditolak

Terhadap pennyaluran bantuan pemerintah, mari…

  1. salurkan melalui Rt dan Rw sesuai dengan kebutuhan
  2. Rt dan Rw harus transparan agar saling percaya (trust)
  3. Jika bantuan terbatas,

Seruan Cegah Covid-19 Dari Desa

Oleh : Sofyan Sjaf

Jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah. Beberapa pakar modeling menyebutkan puncak penyebaran Covid-19 akan terjadi di akhir bulan April atau Mei dan akan menelan korban tidak sedikit, jika tidak ada penanganan secara sistematis dan masif. Artinya kita akan menghadapi masa-masa kritis 2-3 bulan ke depan (dengan catatan: kecepatan penanganan Covid-19 bisa seperti di negara Cina).

Dalam masa-masa kritis tersebut, desa sebagai entitas sosial ekonomi yang akan terpapar parah akibat Covid-19. Mengapa? Setidaknya dua alasan: (1) untuk bertahan hidup, mereka harus keluar rumah dan berinteraksi dengan siapa pun. Sebagian besar warga desa bermata pencaharian sebagai buruh (tani dan lepas), karyawan pabrik, dan pedagang kecil; dan (2) kantong kemiskinan Indonesia tersebar di pedesaan.

Dari latar belakang tersebut, bisa dipastikan mereka tidak akan patuh himbauan social distancing dari pemerintah. Ketidakpatuhan tersebut, bukanlah kehendak mereka, tetapi tuntutan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sekali lagi, tuntutan untuk bertahan hidup.

 Mendesak Dilakukan

Kita belum terlambat! Kita bisa hadapi bersama puncak penyebaran Covid-19 tersebut dengan meminimalisir korban Covid-19 sekecil mungkin! Dari desa, kita cegah penyebaran Covid-19. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya adalah kerja bersama dan berbagi peran antar pemangku kepentingan (stakeholders).

BLT dikhususkan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga keluarga miskin, seperti: listrik, gas, dan lain-lain. Program BLT masuk desa ini sebaiknya dikoordinasikan satu pintu; ketiga, bangun dan efektifkan lumbung-lumbung pangan di desa. Lumbung ini berguna untuk menjamin stok pangan 2-3 bulan ke depan.

 Juga memastikan ketersediaan stok dan distribusi pangan dan kebutuhan dasar; keempat, membuat regulasi kesehatan terkait kewaspadaan pencegahan, penanganan, jalur distribusi dan ketersediaan alat kesehatan dan pelindung diri dimulai dari garda terdepan (Puskesmas sampai dengan Rumah Sakit); dan kelima, membebas tugaskan karyawan (buruh) industri atau memberlakukan sistem bergilir kerja yang ketat yang memenuhi Protokol Pencegahan Covid-19.

Untuk pemerintah desa, lima langkah yang dapat dilakukan, pertama, bentuk Satgas Pencegahan Covid-19 di tingkat Desa. Satgas ini berperan sebagai kontrol deteksi dini respon cepat keluar-masuk warga desa/orang luar desa, hubungan dengan luar desa, dan Pusat informasi Covid-19 bagi warga desa.

Kedua, melakukan koordinasi kerja sama dengan Puskesmas, Kecamatan, Polsek, Koramil (Satgas Covid-19 Kecamatan), Babinkamtibmas/Babinsa, Satgas Covid-19 Desa, dan Pemuda Desa dalam mengoptimalkan komunikasi informasi edukasi pencegahan penularan Covid-19 dan deteksi dini data laporan warga yang menunjukkan riwayat dan gejala Covid-19.

Ketiga, menyediakan rumah isolasi diri untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP); keempat, bangun dan efektifkan lumbung pangan desa. Lumbung ini berfungsi untuk mengumpulkan cadangan pangan, beras, telur, daging, dan bangun jejaring lumbung pangan desa dan antar desa; dan kelima, koordinasi dengan pemerintah dan pemerintah daerah terkait perkembangan Covid-19 di masing-masing desa.

Sementara itu, untuk civil society beberapa langkah yang bisa dilakukan, pertama, bantu desa dalam bentuk donasi kebutuhan pencegahan Covid-19, seperti: sabun cuci tangan/hand sanitizer, masker, desinfektan, dan lain-lain. Kedua, bantu desa dalam bentuk sedekah, infak dan atau sejenisnya untuk memenuhi kebutuhan kaum miskin desa selama pandemi Covid-19.

Ketiga, viralkan ke media sosial, kebutuhan-kebutuhan desa dalam pencegahan Covid-19; keempat, khusus perguruan tinggi, bantu desa untuk membangun sistem pendataan Covid-19; dan kelima, menyerukan melalui akun-akun media sosial pribadi untuk mengajak seluruh komponen anak bangsa untuk kerja bersama gotong royong membangun solidaritas cegah Covid-19 dari desa.

Terakhir untuk pelaku swasta/pengusaha, ada tiga langkah minimal yang dapat dilakukan, yakni, pertama, bangun konsorsium pengusaha/perusahaan untuk memproduksi secara massal dan masif kebutuhan pencegahan Covid-19, seperti: sabun cuci tangan /hand sanitizer, masker, disinfektan, dan lain-lain; kedua, gunakan potensi Coorperate Social Responsibility (CSR) untuk membantu operasional rumah isolasi diri di pedesaan; dan ketiga, membangun koordinasi dengan pemerintah, pemerintah desa, dan civil society untuk bersama-sama mencegah mewabahnya Covid-19.

Akhirnya kita sadar bahwa Covid-19 tidak bisa diperangi atau dimusnahkan. Tetapi hanya mampu dicegah agar tidak menjadi wabah. Dunia ini sudah pernah mengalami pandemi yang sama dan berhasil dilalui. Oleh karena itu, saya yakin bahwa kita bisa melaluinya dengan cara gotong royong.

Jika saja lapisan sosial menengah ke atas bisa melaksanakan himbauan pemerintah tentang social distancing, semua itu tidak lain karena mereka memiliki “saving”. Akan tetapi tidak untuk mereka yang berada di lapisan bawah pedesaan. Untuk itu, mari kita serukan solidaritas dari desa kita cegah Covid19! Wallahu’alam.

-Membumi dan Mendunia-

sumber : geotimes.co.id

TIPS HADAPI COVID19 #tips1

WHO telah menetapkan Virus Corona atau Covid19 menjadi pandemi global karena persebarannya yang semakin luas dan cepat. Angka kasus positif Covid19 semakin hari terus bertambah dan korban meninggal semakin banyak.

Untuk itu pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan demi mengantisipasi penyebaran virus ini, salah satujnya adalah Work From Home (WFH).

Work Form Home (WFH)  berarti melakukan segala pekerjaan baik pekerjaan perkantoran maupun rumah tangga di rumah. Hal ini tentu saja memberikan pengalaman baru bagi beberapa rumah tangga, untuk melakukan beberapa kegiatan dalam satu waktu. Tidak jarang WFH justru menyebabkan beberapa permasalahan mendasar yang bisa mengganggu keharmonisan dalam rumah tangga.

Untuk itu, beberapa dosen dan ahli Fakultas Ekologi manusia memberikan tips-tips yang pastinya berguna untuk menghadapi WFH. Berikut adalah beberapa tips yang diberikan.

yuk langsung aja kepoin bareng…