Salah satu strategi kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-2014 adalah perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu, berdaya saing internasional, berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara (Kemendiknas 2010). Sejalan dengan kebijakan di atas, Kementerian Agama RI mengupayakan pemberian beasiswa bagi santri, untuk dapat mengikuti program pendidikan tinggi yang dinamakan dengan program beasiswa santri berprestasi (Kemenag 2009). Pendidikan formal sampai ke perguruan tinggi merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Megawangi (2008) mengklasifikasikan aspek potensi-potensi manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, diantaranya aspek emosi, sosial dan akademik.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis perbedaan karakteristik individu dan karakteristik keluarga pada mahasiswa PBSB dan non PBSB, (2) menganalisis perbedaan tingkat kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem dan prestasi akademik pada mahasiswa PBSB dan non PBSB, (3) menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan keluarga dengan kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem mahasiswa PBSB dan non PBSB, (4) menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dan kematangan sosial dengan self-esteem mahasiswa PBSB dan non PBSB, (5) menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem dengan prestasi akademik mahasiswa PBSB dan non PBSB, (6) menganalisis pengaruh karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem terhadap prestasi akademik mahasiswa PBSB dan non PBSB.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional study. Penelitian dilakukan di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dipilih secara purposive. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret hingga Oktober 2010. Contoh dalam penelitian ini adalah mahasiswa PBSB dan mahasiswa non PBSB IPB. Contoh diambil secara acak sistematis pada 100 orang mahasiswa yang terdiri dari 50 mahasiswa PBSB dan 50 mahasiswa non PBSB. Jumlah contoh ditentukan berdasarkan jumlah yang memenuhi syarat untuk uji statistik.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data karakteristik individu, karakteristik keluarga, kecerdasan emosional, kematangan sosial, dan self-esteem, yang diperoleh melalui teknik wawancara dan laporan diri (self report) dengan alat bantu kuisioner. Data sekunder meliputi jumlah mahasiswa dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diperoleh dari Direktorat Administrasi dan Jaminan Mutu Pendidikan IPB, serta data mengenai mahasiswa PBSB yang diperoleh dari Direktorat Kerja Sama dan Program Internasional IPB. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik deskriptif dan inferensial.

Proporsi terbesar contoh berada pada kisaran usia 19-21 tahun di kelompok PBSB, dan 20-21 tahun di kelompok non PBSB. Lebih dari separuh contoh berjenis kelamin perempuan. Urutan contoh pada kedua kelompok

menyebar merata sebagai anak sulung dan anak tengah. Sebagian besar contoh kelompok PBSB mengikuti kegiatan kemahasiswaan lebih dari lima kegiatan, sementara pada kelompok non PBSB kegiatan kemahasiswaan yang diikuti menyebar pada kurang dari sama dengan dua kegiatan, tiga sampai lima kegiatan, dan lebih dari lima kegiatan. Kelompok PBSB memiliki usia yang nyata lebih kecil dan kegiatan kemahasiswaan yang nyata lebih besar dari kelompok non PBSB. Tingkat pendidikan ayah contoh di kelompok PBSB tersebar pada tamat SD dan SMA/Sederajat, sementara pada kelompok non PBSB hampir separuh ayah contoh telah menamatkan pendidikan hingga Perguruan Tinggi dan SMA/Sederajat. Tingkat pendidikan ibu contoh di kelompok PBSB menyebar merata pada SMA/Sederajat dan tamat SD, sementara pada kelompok non hpw PBSB adalah SMA/Sederajat dan perguruan tinggi. Pekerjaan ayah contoh pada kelompok PBSB tersebar merata sebagai petani dan wiraswasta, sementara ayah contoh pada kelompok non PBSB tersebar merata sebagai Pegawai Negeri Sipil, wiraswasta, dan pegawai swasta. Hampir separuh ibu contoh di kedua kelompok adalah tidak bekerja. Pendapatan orangtua contoh pada kelompok PBSB tersebar pada kisaran kurang dari sama dengan Rp 500 000 hingga Rp 2 500 000, sementara pada kelompok non PBSB pendapatan orangtua contoh berada pada kisaran yang lebih tinggi yaitu Rp 1 000 001 hingga Rp 5 000 000. Proporsi terbesar di kedua kelompok termasuk ke dalam tipe keluarga sedang. Pendidikan dan pendapatan orangtua di kelompok PBSB nyata lebih kecil dari non PBSB, dan besar keluarga kelompok PBSB nyata lebih besar dari non PBSB.

Lebih dari separuh contoh di kedua kelompok memiliki tingkat kecerdasan emosional yang sedang. Sebagian besar contoh kelompok PBSB dan lebih dari separuh contoh kelompok non PBSB memiliki kematangan sosial (kesadaran sosial dan fasilitas sosial) pada kategori sedang. Terdapat perbedaan yang nyata pada aspek fasilitas sosial, dimana contoh pada kelompok PBSB memiliki nilai rata-rata yang lebih besar dari kelompok non PBSB. Lebih dari separuh contoh kelompok PBSB dan sebagian besar contoh kelompok non PBSB memiliki self-esteem dengan kategori sedang. Proporsi terbesar contoh pada kedua kelompok memiliki IPK yang berada pada kategori baik yaitu antara 2.75 hingga 3.50.

Kegiatan kemahasiswaan berhubungan nyata dan positif dengan kecerdasan emosi, kematangan sosial, dan self-esteem pada kelompok non PBSB. Terdapat hubungan yang nyata antara pendapatan orangtua dengan kesadaran emosi diri pada contoh PBSB. Besar keluarga pada contoh PBSB memiliki hubungan negatif dan nyata dengan pengelolaan emosi. Pada contoh PBSB terdapat hubungan negati dan nyata antara besar keluarga dengan kesadaran sosial dan kematangan sosial. Terdapat hubungan yang nyata antara kelima aspek kecerdasan emosional (kecuali pengelolaan emosi pada contoh non PBSB) dan kematangan sosial dengan self-esteem pada kedua kelompok contoh. Sementara itu kematangan sosial pada contoh PBSB memiliki hubungan yang nyata negatif dengan prestasi akademik. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap prestasi akademik contoh kelompok PBSB adalah kecerdasan emosional dan kematangan sosial. Sementara pada kelompok non PBSB, faktor yang berpengaruh nyata terhadap prestasi akademik adalah kegiatan kemahasiswaan.

Kata kunci : Program beasiswa santri berprestasi (PBSB), kecerdasan emosional, kematangan sosial, self-esteem, prestasi akademik.

Share this:Print this pageEmail this to someoneShare on Facebook0Share on Google+0Share on StumbleUpon0Tweet about this on Twitter0Digg thisShare on Reddit0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


  • *