Kurang Gizi dan Obesitas, Dampak Minimnya Literasi Gizi di Indonesia

Masalah konsumsi gizi yang tidak seimbang ternyata menjadi persoalan serius di Indonesia. Tak hanya masyarakat menengah ke bawah, masalah gizi juga dialami masyarakat menengah ke atas. Itulah mengapa kita sering mendengar masih banyak kasus kekurangan gizi atau bahkan obesitas di Tanah Air. Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD mengatakan, literasi gizi di Indonesia masih sangat kurang. Padahal, berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan negara terkaya kedua di dunia dalam keanekaragaman hayati.

“Tapi kok terjadi kelaparan di daerah-daerah tertentu? Masalahnya ada di literasi gizi, ada informasi yang belum mampu kita olah,” kata Ahmad Sulaeman. Hal itu disampaikan Ahmad dalam sebuah acara diskusi di Gran Mahakam Hotel, Jakarta, Jumat (12/10/2018). Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Literasi gizi yang baik ditandai dengan kecermatan seseorang dalam menghitung kebutuhan gizi, serta bijak dalam membaca label informasi pada makanan olahan.

Kurangnya literasi gizi membuat masyarakat mudah percaya dengan informasi bohong atau hoax yang disebarkan lewat berbagai medium. Termasuk soal makanan dan minuman yang tabu atau dilarang. Misalnya, prioritas makanan yang keliru dalam keluarga. Masih ada keluarga yang menganggap ayah perlu mendapatkan makanan dengan porsi terbesar, sedangkan anggota keluarga lainnya lebih kecil. Ada juga masyarakat yang merasa belum makan sebelum menyantap nasi. Padahal ia sudah mengonsumsi makanan sumber karbohidrat lainnya, seperti kentang, makanan dari tepung, atau sumber lainnya. Atau, ada juga orangtua yang tak membiasakan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Orangtua tersebut hanya memberikan anak-anaknya uang jajan yang kemudian dibelikan makanan tidak bergizi. “Anak-anak berangkat sekolah tidak sarapan akhirnya beli jajanan, beli minuman manis seperti minuman jeruk yang tidak ada jeruknya hanya essence.” “Padahal anak-anak butuh energi,” tutur Ahmad.

Di satu sisi, ada sekelompok masyarakat yang mengalami kekurangan gizi. Namun di sisi lain ada pula masyarakat yang kelebihan gizi, lebih berisiko mengalami penyakit tertentu, seperti obesitas, dan diabetes.  Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami porsi gizi yang seimbang. Selain itu, dibutuhkan variasi pangan, baik alami maupun olahan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. “Ingat. Tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung zat gizi lengkap yang kita butuhkan. Itulah kenapa Tuhan menciptakan beragam makanan,” kata Ahmad.

Sumber : Kompas.com

Literasi Gizi Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Literasi Gizi Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Jumat, 12 Oktober 2018 – 17:15 WIB

Pemerintah melalui Permenkes No. 41 Tahun 2014 telah mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang serta PEMENKES no. 75 tahun 2013 tentang anjuran Angka Kecukupan Gizi Harian, guna mendorong terciptanya masyarakat Indonesia yang Iebih sehat.

Untuk meraih pemenuhan gizi seimbang, dibutuhkan literasi gizi yang baik, agar seseorang paham dengan kandungan nilai gizi dari makanan atau minuman yang dikonsumsi. Faktanya, tingkat Iiterasi Indonesia secara umum masih memprihatinkan.

Data dari World’s Most Literate Nations menempatkan tingkat Iiterasi Indonesia berada di urutan kedua terbawah (peringkat 60) dari 61 negara di dunia. Artinya, kesadaran masyarakat untuk membaca, mencari tahu dan memahami informasi, termasuk terkait masalah gizi, masih sangat rendah.

Menurut Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan negara terkaya kedua di dunia dalam keanekaragaman hayati. Di antaranya Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 26 jenis kacang-kacangan, 228 jenis sayuran, serta 389 jenis buah~ buahan.

Namun potensi ini belum diimbangi dengan pola konsumsi masyarakat yang bervariasi, untuk pemenuhan gizi seimbang.

Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD menegaskan pentingnya literasi gizi bagi masyarakat.

“Manusia memerlukan zat gizi yang dibutuhkan untuk energi harian, serta membangun dan memelihara jaringan serta organ dalam tubuh,” kata Ahmad Sulaeman pada talk show MilkVersation Frisian Flag Indonesia (FFI) dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia 2018 di Gran Mahakam Hotel, Jakarta, Jumat (12/10).

Di pasar, lanjut ia banyak tersedia jenis pangan, baik olahan maupun pangan lokal yang masing masing memiliki manfaat tersendiri untuk pemenuhan kebutuhan gizi. Sayangnya, saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi makanan tidak berdasarkan pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan.

Padahal, kondisi kekurangan, atau kelebihan konsumsi gizi dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang seseorang. “Remember, you are what you eat! Karena itulah, sangat penting untuk memahami kandungan nilai gizi dasar, serta takaran dan proposi yang tepat dari makanan dan minuman yang akan kita konsumsi,” jelasnya.

Dilanjutkan Ahmad Sulaeman, seseorang dengan literasi gizi yang baik akan dengan cermat menghitung kebutuhan gizinya, serta bijak dalam membaca label informasi pada makanan olahan yang dikonsumsi.

“Frisian Flag Indonesia memahami, rendahnya Iiterasi gizi adalah gerbang dari timbulnya berbagai masalah gizi, yang tentunya dapat berimplikasi pada terganggunya pertumbuhan dan kesehatan fisik seseorang,” kata Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Di momen peringatan Hari Pangan Sedunia kali ini yang jatuh pada 16 Oktober FFI mengajak masyarakat Indonesia untuk cerdas mengonsumsi pangan melalui edukasi Iiterasi gizi, menerapkan pola gizi seimbang, rutin mengkonsumsi susu, serta menjalani gaya hidup aktif.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat literasi gizi dan pangan berkualitas, sehingga lebih lanjut dapat meningkatkan status gizi bangsa dan membangun keluarga Indonesia yang kuat dan berkualitas,” ujarnya.

 

Summer: radarpena.com

Kunjungan Wakil Dekan SKP FEMA-IPB Ke Bulgaria

Pada tanggal 26 September sampai tanggal 3 Oktober 2018 Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama, dan Pengembangan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Prof. Dr. Ir Ahmad Sulaeman MS, melakukan kunjungan ke kota Sofia, Bulgaria. pada kunjungan ini Wakil Dekan mengunjungi Institute Of Organic Chemistry with Center for Phytochemistry – Bulgarian Academic of Sciences (IOCCP-BAS) untuk membicarakan tindak lanjut Memorandum of Understanding yang telah di tanda tangani bulan November tahun 2016. Pada pertemuan dengan pihak IOCCP-BAS yang diwakili oleh Prof. Vassya Bankova telah disepakati satu Memorandum of Agreement (MOA) untuk melakukan kerjasama riset di bidang propolis, pelatihan ,pembimbingan mahasiswa doktoral, penulisan publikasi ilmiah dan diseminasi hasil penelitian.

 

 

 

 

 

Pada kesempatan kunjungan ini Prof Ahmad juga mengikuti Second Conference on Propolis in Human and Bee Health yang dilaksanakan pada tanggal 28-29 September 2018 di Kota Sofia, Bulgaria.  pada Conference tersebut Prof Ahmad menyampaikan makalah dengan judul Hepatoprotective Activity of Indonesian Stingless Bee Propolis Against Toxicity of Anti Tuberculosis Drug on Pulmonary Tb Patients yang mendapat tanggapan yang serius dari peserta konfrensi yang berasal dari berbagai belahan benua. Selain itu Prof Ahmad melakukan visitasi dan monitoring kegiatan yang dilakukan mahasiswa PMDSU yang sedang melakukan penelitian propolis di IOCCP-BAS. 

 

 

 

 

 

 

Sebagai PNS yang melakukan kunjungan ke luar negeri, Prof Ahmad juga melakukan kunjungan sekaligus melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sofia, Bulgaria dan bertemu dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Bulgaria, Republik Albania, dan Republik Macedonia yaitu Ibu Sri Astari Rasyid. Ibu Dunes menyambut baik kerjasama yang telah dijalin dan beliau tertarik untuk meningkatkan kerjasama yang lebih luas lagi.

Passioning the Spirit of Nationalism through Local Food, Prof. Ahmad Sulaeman IPB Wins Academic Leader at IPB Level

Passioning the Spirit of Nationalism through Local Food, Prof. Ahmad Sulaeman IPB Wins Academic Leader at IPB Level


Academic leader is an award given to lecturers who show their leadership in the academic field. Professor of Security and Nutrition, Faculty of Human Ecology (Fema) Bogor Agricultural University (IPB), Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, M.Sc won the award as the winner of IPB Academic Leader rank. There are three indicators that assess the selection of leaders in the academic field, including education (teaching), research and community service.

This doctoral alumnus in Human Nutrition, University of Nebraska Lincoln, USA, besides conducting many researches and conferences in various national and international events, he also spawned a lot of research and food products that are useful in the community. Useful products in this community are strengthened by the existence of patents, trademarks and of course high commercial value.

“I am indeed interested in researching local food products which tend not to be seen by many people. Some patented products include Propolis for Tuberculosis (TB) and HIV, a bee house with a three stacking system (STUP), and Lakvita, an instant cream soup made from pumpkin which is suitable for the elderly,” he said.

He said, the three-stacked bee house system is the first bee house system that can boost the production of bee honey and propolis. This innovation is the result of collaboration with farmers from South Sulawesi.

Whereas for commercial products and circulating on the market include Trigona Propolis and Honey Trigona. Other products that have health benefits include Sasumuzi (Sagon Sukun Multi Gizi), Busumuzi (Multi Nutrition Bread Fruit Porridge) and Teasport drink which is drinking from fermented soybeans for sportsmen. He targeted, every product developed must be ready to be marketed. Currently, products that have been developed by Prof. Ahmad and several other researchers from Fema IPB are in the process of collaborating with Kimia Farma and Indo Farma.

The professor who used to aspire as a pilot hopes that with the various studies he has done, he can answer the problems related to nutrition and health with the use of local food. “My first study used Sorghum and Brondong for Breastmilk Substitute (MPASI) for Toddlers. Next I developed bread, noodle and biscuit products from local foods, so that they didn’t depend too much on wheat. I have already made flour from jali, cassava, tofu pulp, tempeh, taro, dragon fruit, carrots, and sago,” he said.

He hopes Indonesia with its abundant and diverse natural resources can be sovereign in the field of food. Fullfilling food of the Indonesian people should no longer depend on imports because local food is very diverse and is still not fully utilized.

“When Indonesia is sovereign with its mouth, nationalism towards the nation will flow in its blood. Therefore, raising the issue of local food is important to do not only for academics but also for the whole community. If not us, who else?” He said. (RYS)

 

Pelatihan Personal Branding

Pelatihan Personal Branding

Manage your life with talent and turn it to a unique experience

Selasa, 25 September 2018

IPB International Convention Center

 

 

Berita IPB di Media Massa, 17 Juli 2018

1. IPB Gelar Pertemuan Koordinasi Manajemen

https://megapolitan.antaranews.com/berita/41663/ipb-gelar-pertemuan-koordinasi-manajemen

2. Lepas Sepuluh Dosen dan Tendik Purnabakti, Dept. ITP IPB Gelar ” Syukur atas Bakti untuk Negeri”
https://megapolitan.antaranews.com/berita/41634/lepas-sepuluh-dosen-dan-tendik-purnabakti-dept-itp-ipb-gelar-syukur-atas-bakti-untuk-negeri

3. Departemen Biologi IPB Hadirkan Pakar Orangutan dari Swiss
https://megapolitan.antaranews.com/berita/41668/departemen-biologi-ipb-hadirkan-pakar-orangutan-dari-swiss

4. Keberadaan Teluk Jakarta Penting untuk Dijaga
https://megapolitan.antaranews.com/berita/41659/keberadaan-teluk-jakarta-penting-untuk-dijaga

5. Bantah Program RLH Gagal
http://jabarekspres.com/2018/bantah-program-rlh-gagal/

6. Keberadaan Teluk Jakarta Penting untuk Dijaga
https://megapolitan.antaranews.com/berita/41659/keberadaan-teluk-jakarta-penting-untuk-dijaga

7. Dokter Hewan Dibekali Keterampilan Bedah Mata
https://www.malang-post.com/pendidikan/dokter-hewan-dibekali-keterampilan-bedah-mata

8. Soal Pulau Reklamasi, Akademisi IPB Soroti Isu Kerusakan Lingkungan
https://www.jawapos.com/nasional/humaniora/16/07/2018/soal-pulau-reklamasi-akademisi-ipb-soroti-isu-kerusakan-lingkungan

9. Jaga Laut Indonesia, Mahasiswa IPB Ciptakan Inovasi Swarm Ship Pintar
https://news.okezone.com/read/2018/07/16/65/1922816/jaga-laut-indonesia-mahasiswa-ipb-ciptakan-inovasi-swarm-ship-pintar

10. Mahasiswa IPB Rancang Swarm Ship Jaga Laut Indonesia
https://www.antaranews.com/berita/727032/mahasiswa-ipb-rancang-swarm-ship-jaga-laut-indonesia

11. Mahasiswa IPB Ciptakan Drone Laut Tuk Jaga Perairan Indonesia
http://m.akurat.co/id-254800-read-mahasiswa-ipb-ciptakan-drone-laut-tuk-jaga-perairan-indonesia

12. Ketika Mahasiswa IPB Ajari Emak- emak di Dramaga, Bogor, Budidaya Cacing Tanah
http://www.tribunnews.com/metropolitan/2018/07/17/ketika-mahasiswa-ipb-ajari-emak-emak-di-dramaga-bogor-budidaya-cacing-tanah

13. Mahasiswa IPB Ciptakan Kapal Laut yang Mampu Berkomunikasi dengan yang Lainnya
http://www.galamedianews.com/nasional/193411/mahasiswa-ipb-ciptakan-kapal-laut-yang-mampu-berkomunikasi-dengan-yang-lainnya.html

14. Mahasiswa IPB Kreasikan Drone untuk Jaga Laut dari Kapal Asing
https://minanews.net/mahasiswa-ipb-kreasikan-drone-untuk-jaga-laut-dari-kapal-asing/

15. Tingkatkan Ekonomi Keluarga, Mahasiswa IPB Ajari Ibu Rumah Tangga Budidaya Cacing
http://bogor.tribunnews.com/2018/07/17/tingkatkan-ekonomi-keluarga-mahasiswa-ipb-ajari-ibu-rumah-tangga-budidaya-cacing

16. 5.000 Desa Tertinggal Diprioritaskan
(Kompas, Selasa 17 Juli 2018, Hal. 19)

17. Peminat UTM IPB Melonjak
(Radar Bogor, Selasa 17 Juli 2018, Hal. 9)

18. Garam dan Penyakit Tak Menular
(Koran Tempo, Fransiska Rungkat Zakaria, Guru Besar Dept. Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Selasa 17 Juli 2018, Hal 11)

========================
Dihimpun oleh:
Biro Komunikasi
Institut Pertanian Bogor
http://ipb.ac.id
http://humas.ipb.ac.id
http://ipbmag.ipb.ac.id
http://media.ipb.ac.id
http://greencampus.ipb.ac.id
Telp: 0251-8425635
WA : 085880584908
Email: humas@apps.ipb.ac.id
Fb: Bogor Agricultural University Official
Twitter : @ipbofficial
IG : @official_ipb
Line : @ipb.ac.id

Penghantaran Mahasiswa KKNT IPB ke Kabupaten Rembang Jawa Tengah, dilanjut kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Rembang dalam Pengentasan Kemiskinan pada 12 Juli 2018 yang dilaksanakan di Kantor Bupati Rembang. Hadir dalam Serah Terima 37 Mahasiswa/i KKNT IPB di Rembang, Wakil Bupati Rembang, Wakil Kepala Bappeda Rembang, Ketua Tim Penggerak PKK Rembang dan Kabid Kerjasama Bappeda Rembang. Dari IPB hadir Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dan Koordinator Wilayah/Dosen Pembimbing Lapang Rembang

Diary Mommycomb: Ajak Ibu Menulis Kisah 1000 Hari Pertama Kehidupan Buah Hati

”Kondisi suatu bangsa dapat ditentukan dari para wanitanya. Jika baik para wanita dalam melahirkan generasi, baik pula generasi penerusnya. Namun jika tidak, buruk pulalah generasi yang dilahirkannya”, begitulah pesan yang banyak disampaikan oleh orang bijak. Ibu memiliki peran besar dalam pembentukan generasi suatu bangsa, seperti halnya peran literasi dalam memajukan kualitas sumber daya manusia dalam suatu negara. Mirisnya hasil riset Central Connecticut University untuk “Most Littered Nation in the World” menempatkan Indonesia sebagai negara dengan minat literasi sangat rendah di peringkat 60 dari 61 negara. Studi ini mencakup minat membaca, menulis, maupun minat terhadap pengetahuan, begitu pula dengan penyediaan sarana dan prasarana.

Rendahnya minat literasi bangsa ini menunjukkan kurangnya internalisasi terhadap literasi itu sendiri. Padahal membaca dan menulis adalah bekal untuk mendapat ilmu pengetahuan yang nantinya dapat diamalkan untuk memperbaiki bangsa ini. Menanamkan kegemaran menulis dan membaca idealnya dilakukan sedini mungkin, dimulai dari para pencetak generasi itu sendiri, yaitu para ibu yang menentukan kualitas dari anak-anaknya. Lima mahasiswa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menciptakan solusi sekaligus inovasi terkait permasalahan ini. Mereka adalah Aliya Nurarifa Saadah (Gizi Masyarakat), Sarah Vaisala Trimulyani (Ekonomi Studi dan Pembangunan), Vidian Imam Nurfadilah (Gizi Masyarakat), Hanin Khalisharani (Ilmu Keluarga dan Konsumen), juga Novan Aji Imron (Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat). Kelimanya membuat “Diari Mommycomb 1000 Hari Anakku : Media pantau tumbuh kembang anak sebagai upaya peningkatan minat literasi pada ibu” yang berkesempatan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) 2018 dari Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti).

Program yang dilaksanakan untuk menunjang optimalisasi adanya diari yang mereka buat adalah pelaksanaan Sekolah Ibu Mommycomb di Posyandu Plamboyan, Babakan Doneng, Dramaga. Sekolah ini terdiri dari empat kelas materi, yaitu Kelas Gizi dan Kesehatan, Kelas Pengasuhan, Kelas Manajemen Keluarga, dan Kelas Kreasi. Luaran dari program ini adalah mempersiapkan ibu menjadi ibu berkualitas terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan sang anak. “1000 Hari Pertama Kehidupan merupakan golden age yang menentukan masa depan anak dan ibu berperan penting pada periode ini. Kondisi ibu tidak hanya harus baik secara fisik, tapi juga psikisnya. Salah satu kebiasaan baik yang dapat dibiasakan adalah menulis” tutur Aliya selaku Ketua Tim.

Menurut Aliya, ketika para Ibu menuliskan pengalamannya selama membesarkan anak, seorang ibu tidak hanya mendapatkan self healing melalui tulisannya, tapi tulisan tersebut juga dapat menjadi kenang-kenangan bagi keluarga, terutama saat anaknya besar nanti. Melalui program ini, Tim Mommycomb berupaya untuk membiasakan para ibu agar meningkatkan literasi melalui menulis diari, membaca buku-buku yang baik, meningkatkan pengetahuan terutama dalam pengasuhan anak dan manajemen keluarga, serta membiasakan hal-hal baik bagi ibu dan anaknya.

Aliya berharap produk dan program dari PKM-M ini dapat diadopsi dan diimplementasikan ke masyarakat umum, sehingga menjadi solusi pada permasalahan rendahnya literasi negara ini sekaligus menjadi inovasi dalam memantau tumbuh kembang anak dan membesarkannya.