Diskusi DEKAN FEMA IPB dengan Direktur Graduate School of Social Sciences

Kamis, 22 November 2018, Dekan FEMA Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc berdiskusi dengan Direktur Graduate School of Social Sciences, Wegeningen University. Disepakati bahwa, mahasiswa program Doktor dan Master dapat mengikuti summer or winter courses. Hal menarik pada diskusi tersebut adalah program studi manajemen, ekonomi dan bisnis dan prodi sosial lainnya ada di bawah social sciences. Sehingga, mahasiswa doktor dari sekolah bisnis ipb dan program doktor dari FEMA dan FEM dapat mengikuti program credit transfer. Salam!

FEMA “Membumi dan Mendunia”

 

PENGUMUMAN SIM – FEMA

PENGUMUMAN

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia – Institut Pertanian Bogor, Pengurusan usulan surat administrasi pendidikan melalui web SIM FEMA untuk sementara tidak dapat digunakan dan segala usulan surat administrasi pendidikan diusulkan melalui departemen masing-masing.

 

Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih

 

FEMA IPB

Mahasiswa Berprestasi 2019 Fakultas Ekologi Manusia

Selamat kami ucapkan kepada Mahasiswa Berprestasi FEMA 2019 yaitu :

1. Intan Permata Sari (NIM I24160084)

2. Ilhamda El Zuhri (NIM I34170052)

Selamat berjuang mewakili FEMA dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat IPB.

Sukses untuk Intan Permata Sari dan Ilhamda El Zuhri.

 

Informasi Lowongan Kerja – CDA IPB

Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir IPB bekerjasama dengan beberapa perusahaan membuka kesempatan bagi lulusan maupun alumni IPB untuk bekerja pada perusahaan tersebut. Berikut Perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan di web CDA IPB

1. PT Astra Agro Lestari

2. PT Amerta Indah Otsuka

3. Bimbingan Belajar L2C

4. PT. Siaga Global Jaya

5. PT Seng Fong Moulding Perkasa

6. PT BFI Finance Indonesia Tbk

7. PT Satronet Filtrasi Indonesia

8. Bimbel Alkausar (Alkausar Boarding School)

dan masih banyak lagi. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di web CDA : LOWONGAN CDA

 

Kurang Gizi dan Obesitas, Dampak Minimnya Literasi Gizi di Indonesia

Masalah konsumsi gizi yang tidak seimbang ternyata menjadi persoalan serius di Indonesia. Tak hanya masyarakat menengah ke bawah, masalah gizi juga dialami masyarakat menengah ke atas. Itulah mengapa kita sering mendengar masih banyak kasus kekurangan gizi atau bahkan obesitas di Tanah Air. Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD mengatakan, literasi gizi di Indonesia masih sangat kurang. Padahal, berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan negara terkaya kedua di dunia dalam keanekaragaman hayati.

“Tapi kok terjadi kelaparan di daerah-daerah tertentu? Masalahnya ada di literasi gizi, ada informasi yang belum mampu kita olah,” kata Ahmad Sulaeman. Hal itu disampaikan Ahmad dalam sebuah acara diskusi di Gran Mahakam Hotel, Jakarta, Jumat (12/10/2018). Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Literasi gizi yang baik ditandai dengan kecermatan seseorang dalam menghitung kebutuhan gizi, serta bijak dalam membaca label informasi pada makanan olahan.

Kurangnya literasi gizi membuat masyarakat mudah percaya dengan informasi bohong atau hoax yang disebarkan lewat berbagai medium. Termasuk soal makanan dan minuman yang tabu atau dilarang. Misalnya, prioritas makanan yang keliru dalam keluarga. Masih ada keluarga yang menganggap ayah perlu mendapatkan makanan dengan porsi terbesar, sedangkan anggota keluarga lainnya lebih kecil. Ada juga masyarakat yang merasa belum makan sebelum menyantap nasi. Padahal ia sudah mengonsumsi makanan sumber karbohidrat lainnya, seperti kentang, makanan dari tepung, atau sumber lainnya. Atau, ada juga orangtua yang tak membiasakan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah. Orangtua tersebut hanya memberikan anak-anaknya uang jajan yang kemudian dibelikan makanan tidak bergizi. “Anak-anak berangkat sekolah tidak sarapan akhirnya beli jajanan, beli minuman manis seperti minuman jeruk yang tidak ada jeruknya hanya essence.” “Padahal anak-anak butuh energi,” tutur Ahmad.

Di satu sisi, ada sekelompok masyarakat yang mengalami kekurangan gizi. Namun di sisi lain ada pula masyarakat yang kelebihan gizi, lebih berisiko mengalami penyakit tertentu, seperti obesitas, dan diabetes.  Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami porsi gizi yang seimbang. Selain itu, dibutuhkan variasi pangan, baik alami maupun olahan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. “Ingat. Tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung zat gizi lengkap yang kita butuhkan. Itulah kenapa Tuhan menciptakan beragam makanan,” kata Ahmad.

Sumber : Kompas.com

Literasi Gizi Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Literasi Gizi Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Jumat, 12 Oktober 2018 – 17:15 WIB

Pemerintah melalui Permenkes No. 41 Tahun 2014 telah mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang serta PEMENKES no. 75 tahun 2013 tentang anjuran Angka Kecukupan Gizi Harian, guna mendorong terciptanya masyarakat Indonesia yang Iebih sehat.

Untuk meraih pemenuhan gizi seimbang, dibutuhkan literasi gizi yang baik, agar seseorang paham dengan kandungan nilai gizi dari makanan atau minuman yang dikonsumsi. Faktanya, tingkat Iiterasi Indonesia secara umum masih memprihatinkan.

Data dari World’s Most Literate Nations menempatkan tingkat Iiterasi Indonesia berada di urutan kedua terbawah (peringkat 60) dari 61 negara di dunia. Artinya, kesadaran masyarakat untuk membaca, mencari tahu dan memahami informasi, termasuk terkait masalah gizi, masih sangat rendah.

Menurut Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan negara terkaya kedua di dunia dalam keanekaragaman hayati. Di antaranya Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 26 jenis kacang-kacangan, 228 jenis sayuran, serta 389 jenis buah~ buahan.

Namun potensi ini belum diimbangi dengan pola konsumsi masyarakat yang bervariasi, untuk pemenuhan gizi seimbang.

Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Institut Pertanian Bogor, Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD menegaskan pentingnya literasi gizi bagi masyarakat.

“Manusia memerlukan zat gizi yang dibutuhkan untuk energi harian, serta membangun dan memelihara jaringan serta organ dalam tubuh,” kata Ahmad Sulaeman pada talk show MilkVersation Frisian Flag Indonesia (FFI) dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia 2018 di Gran Mahakam Hotel, Jakarta, Jumat (12/10).

Di pasar, lanjut ia banyak tersedia jenis pangan, baik olahan maupun pangan lokal yang masing masing memiliki manfaat tersendiri untuk pemenuhan kebutuhan gizi. Sayangnya, saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi makanan tidak berdasarkan pada angka kecukupan gizi yang dianjurkan.

Padahal, kondisi kekurangan, atau kelebihan konsumsi gizi dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang seseorang. “Remember, you are what you eat! Karena itulah, sangat penting untuk memahami kandungan nilai gizi dasar, serta takaran dan proposi yang tepat dari makanan dan minuman yang akan kita konsumsi,” jelasnya.

Dilanjutkan Ahmad Sulaeman, seseorang dengan literasi gizi yang baik akan dengan cermat menghitung kebutuhan gizinya, serta bijak dalam membaca label informasi pada makanan olahan yang dikonsumsi.

“Frisian Flag Indonesia memahami, rendahnya Iiterasi gizi adalah gerbang dari timbulnya berbagai masalah gizi, yang tentunya dapat berimplikasi pada terganggunya pertumbuhan dan kesehatan fisik seseorang,” kata Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Di momen peringatan Hari Pangan Sedunia kali ini yang jatuh pada 16 Oktober FFI mengajak masyarakat Indonesia untuk cerdas mengonsumsi pangan melalui edukasi Iiterasi gizi, menerapkan pola gizi seimbang, rutin mengkonsumsi susu, serta menjalani gaya hidup aktif.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat literasi gizi dan pangan berkualitas, sehingga lebih lanjut dapat meningkatkan status gizi bangsa dan membangun keluarga Indonesia yang kuat dan berkualitas,” ujarnya.

 

Summer: radarpena.com