Lomba Karya Cipta Teknologi Maritim Tingkat Nasional II

March 1, 2010 by admin  
Filed under Info Lomba

Dalam rangka memperingati hari pendidikan TNI Al dan Dies natalis STTAL tahun 2010, akan diadakan Lomba Karya Cipta Teknologi Maritim Tingkat Nasional II tahun 2010 dengan kategori yang lebih luas lagi, yaitu : Kategori SLTA / Sederajat, Kategori Mahasiswa (D-3, D-4, S-1), Kategori Umum / Profesional (S-2, S-3). Penyelenggaraan lomba ini bekerja sama dengan Dephan dan Ristek.

Bidang yang dilombakan meliputi : Bidang teknologi maritim dan alat utama sistem senjata (ALUTSISTA) TNI AL, dan Bidang Energi Alternatif. Syarat-syarat lomba meliputi :

  • materi yang dikirimkan untuk lomba karya cipta teknologi maritim boleh yang sudah dipatenkan maupun yang belum dipatemkan
  • Hasil karya cipta teknologi dapat berguna dalam mendukung tercapainya tugas pokok TNI AL dan kemaritiman
  • merupakan rekayasa, hasil inovasi atau modifikasi
  • Belum pernah diikutsertakan dalam kegiatan lomba yang serupa
  • bagi peserta yang berhasil masuk nominasi 10 ( sepuluh) besar agar menyiapkan diri untuk presentasi, demonstrasi/uji coba hasil karya pada tanggal 7-8 mei 2010
  • bagi 50 peserta pengirim pertama akan mendapatkan piagam penghargaan daari komandan Kobangdikal.

Ketentuan Lomba :

  1. Pendaftaran dan pengiriman proposal paling lambat tanggal 30 April 2010 (stempel Pos) dialamatkan ke : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan laut (STTAL) kobangdikal morokrembangan Surabaya (60175) Telp. (031) 3298840 fax (031) 3298076 email : sttal @yahoo.co.id
  2. Bagi proposal para pemenang yang amsuk nominasi (sepuluh) beasr akan diumumkan melalui website STTAL di http://www.sttal.ac.id dan prototipe alat diperagakan di depan juri pada tanggal 7-8 Mei 2010
  3. Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 10 Mei 2010 melalui website STTAL
  4. Tim juri berasal dari instansi : TNI AL, Ristek, Dephan dan perguruan Tinggi

Hadiah lomba meliputi :
hadiah kategori mahasiswa (D3, D4, S1) meliputi Piala, sertifikat, gratis pedaftaran Patent,dan uang pembinaan, untuk:

  1. Juara 1 Rp. 10.000.000,00
  2. Juara 2 Rp. 7.500.000,00
  3. Juara 3 Rp. 5.000.000,00

gemasTIK 2010

March 1, 2010 by admin  
Filed under Info Lomba

geMasTIK atau Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2010, merupakan program Direktorat Penilitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) DIKTI, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas peserta didik sehingga mampu mengambil peran sebagai agen perubahan dalam memajukan TIK dan pemanfaatannya di Indonesia. geMasTIK adalah pergelaran berbagai kegiatan mahasiswa tingkat sarjana dan diploma dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia dalam bidang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dan tahun ini, geMasTIK – III 2010 akan dilaksanakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Adapun latar belakang yang mendasari perlunya diselenggarakan suatu wadah kompetisi dalam bidang TIK, khususnya bagi kalangan mahasiswa Indonesia di tingkat nasional, yaitu:

  • TIK di kalangan mahasiswa sangat pesat perkembangannya
  • Belum ada wadah yang cukup kompetitif dan terpadu semacam PIMNAS
  • Adanya gap yang cukup lebar mengenai ketersediaan dan kesiapan SDM bangsa Indonesia di bidang SDM TIK
  • TIK memiliki potensi sebagai enabler di semua segi kehidupan dan berdampak luas bagi masyarakat
  • Sebagai bagian kompetisi berjenjang menuju kompetisi TIK berskala internasional
  • Merupakan wadah yang bisa merangkul kegiatan/event sejenis yang diselenggarakan oleh banyak pihak

geMasTIK secara umum bertujuan menjembatani hasil riset dan informasi mengenai perkembangan TIK antara pihak akademisi, industri dan pemerintah, yaitu khususnya :

  1. Meningkatkan hubungan/interaksi di lingkungan dunia akademisi juga dunia akademisi dengan industri dalam pengembangan TIK
  2. Mendorong peningkatan kegiatan riset TIK di kalangan mahasiswa perguruan tinggi dan menerapkan TIK di lingkungan masyarakat Indonesia
  3. Meningkatkan kreativitas dan kepekaan mahasiswa dalam pengembangan TIK
  4. Penyebarluasan informasi dan penguasaan TIK di lingkungan PT ke segenap kalangan masyarakat Indonesia
  5. Ikut meningkatkan jumlah HAKI di Indonesia
  6. Membudayakan iklim kompetitif di lingkungan Perguruan Tinggi
  7. Mendorong interaksi antara PT dengan memanfaatkan teknologi TIK
  8. Mengetahui kebutuhan dan kompetensi Sumber Daya Manusia dalam bidang TIK serta trend teknologi ke depan

Manfaat yang diharapkan dari penyelenggaraan geMasTIK ini adalah sebagai berikut :

  • Dihasilkannya karya inovatif ilmiah mahasiswa bidang TIK yang dapat diterapkan langsung untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat
  • Didapatkannya temuan-temuan baru dalam bidang TIK yang diteliti oleh kalangan mahasiswa sebagai hasil penalaran dan keilmuan, baik yang diperoleh secara terstruktur melalui pendekatan kuliah formal maupun secara otodidak
  • * Dihasilkannya karya tulis sebagai sumbangan dan masukan baik kepada kalangan kampus sendiri maupun masyarakat umum di luar kampus
  • Tersebarkannya informasi dan perkembangan TIK di Indonesia pada khususnya dan di seluruh dunia pada umumnya
  • Meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia akan manfaat penggunaan TIK
  • Terbangunnya komunikasi yang baik antar ahli di sub bidang TIK sehingga terjadi saling menghargai pada sub bidang yang lain
  • Meningkatkan peran serta dunia usaha, industri, dan masyarakat luas dalam peningkatan kualitas dan produktivitas karya ilmiah ekstra kurikuler mahasiswa

Kategori Lomba gemastik adalah:

  1. Lomba Piranti Cerdas
  2. Lomba Aplikasi
  3. Lomba Pemrograman
  4. Lomba Penggalian Data
  5. Lomba Keamanan Jaringan
  6. Lomba Permainan Bisnis
  7. Lomba Pengembangan Permainan
  8. Lomba Desain Web
  9. Lomba Karya Tulis Bidang TIK

Untuk informasi lebih lengkap disini.

GREEN TECHNOLOGY COMPETITION

February 11, 2010 by admin  
Filed under Info Lomba

Dalam rangka kegiatan Envirovolution pada bulan Januari sampai dengan Maret 2010 UKM U-Green ITB mengundang untuk mengikuti kegiatan Green Technology Competition. Acara tersebut merupakan wadah bagi mahasiswa semua perguruan tinggi di Indonesia agar bisa membuat kreasi dan inovasi dalam mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat. Dan diharapkan nantinya kreasi dan inovasi tersebut bisa dikembangkan lebih lanjut lagi. Kompetisi ini teknologi dan inovasi yang bertemakan lingkungan. Kompetisi ini diadakan dengan tujuan memunculkan inovasi baru dalam bidang pelestarian dan penyelamatan lingkungan, membuat pola berfikir baru yang memperhatikan dampak lingkungan, dan tentunya, memunculkan semangat kompetisi untuk menjadi yang terbaik!!

Untuk informasi lebih lanjut, klik disini.

ACFTA, Kado Pahit di Awal Tahun

January 28, 2010 by admin  
Filed under Berita

Liputan6.com, Jakarta: Tahun Baru tentu dengan harapan-harapan baru. Tapi, tak demikian dengan kalangan pengusaha, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM). Pemberlakukan perdagangan bebas yang disebut ASEAN-China Free Trade Agreement atau ACFTA yang dimulai per 1 Januari 2010 seolah bagaikan kado pahit bagi mereka.

Penerapan ACFTA dikhawatirkan bakal menghancurkan industri nasional. Sebab, tarif bea masuk barang-barang dari Cina ke ASEAN, khususnya Indonesia menjadi nol persen. “Kondisi itu, akan mengancam industri kita karena produk Cina yang terkenal murah akan menjadi saingan terberat produk kita,” kata pengamat ekonomi Faisal Basri.

Tak hanya itu. Penerapan ACFTA juga akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. “Seperempat dari 30 juta tenaga kerja akan kehilangan lapangan kerja, yaitu 7,5 juta pekerja,” ujar Djimanto, ketua Asosiasi Penguasa Indonesia.

Faisal sempat meminta DPR agar mengajukan hak angket atas penerapan ACFTA. Menurut dia, nilai kerugian pemberlakuan ACFTA bisa mencapai lebih dari Rp 6 triliun, alias lebih besar dari kasus Bank Century. Pasalnya jelas, ratusan ribu pegawai terancam tidak bekerja. “Harusnya yang seperti ini (ACFTA), yang dijadikan hak angket. Jangan hanya Century,” ucap Faisal, dalam seminar Kebijakan ACFTA di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Permintaan tersebut direspons DPR. “Kalau ini (ACFTA) akan mempengaruhi sistem perekonomian dan kepentingan nasional tak bisa dilindungi, kita (DPR) akan mengarah ke situ (penggunaan hak angket),” jelas Mukhamad Misbakhun, anggota Komisi VI DPR.

Menurut Faisal, Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas karena memiliki daya saing yang rendah. Berdasarkan catatan International Institute for Managemenet Development dalam World Competitiveness Yearbook 2006-2008, daya Indonesia merosot ke peringkat 52 dari 55 negara. Bahkan, versi World Economic Forum menyebutkan daya saing Indonesia berada di peringkat 54, lebih rendah dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. “Bagaimana mau bersaing, kalau daya saing kita saja menempati posisi nomer dua dari belakang,” ujar Faisal.

Sri Adiningsih menyarankan pemerintah menegosiasi ulang kesepakatan perdagangan bebas, terutama untuk sektor-sektor yang belum siap. Di sisi lain, tambah Kepala Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada itu, pemerintah harus menyiapkan industri domestik agar bisa lebih kompetitif dengan produk Cina. Termasuk di antaranya, Sri menambahkan, memberikan kemudahan dalam bentuk pendanaan atau lainnya.

Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengakui banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah guna meningkatkan daya saing industri nasional. Ia juga mengakui banyak industri—terutama industri tekstil serta produk tekstil—terancam dengan penerapan ACFTA. “Terus terang saja (bersaing) dengan Cina kita ragu, khususnya di sektor produksi tekstil. Sekarang saja produksi tekstil kita sudah kalah bersaing,” kata Hidayat.

Ketidaksiapan itu, Hidayat menggambarkan, dapat dilihat dari merosotnya kinerja industri nasional. Hingga Juli 2009, nilai ekspor industri tekstil sudah merosot sekitar US$ 520 juta. Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia turut menjerit. Sejak 2000, ketika bea masuk masih diberlakukan, industri baja Indonesia terus mengalami defisit perdagangan karena kalah bersaing dengan produk impor. Defisit ini dipastikan membengkak, jika bea masuk jadi nol persen.

Lebih Murah

Membanjirnya barang-barang impor dari Cina menggembirakan bagi para konsumen. Kenapa? Selain menambah pilihan harganya juga terjangkau. Soal kualitas?Mungkin jadi pertimbangan kedua. Tengok saja di Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Barat, serta Pasar Tanahabang, Jakarta Pusat. Sepatu, tas, pakaian, atau kain asal Cina bisa ditemui di sana.

Lantas, bagaimana produk Cina bisa lebih murah? Menurut Ketua Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia Poppy Susanti Dharsono, murahnya produk Cina karena didukung kebijakan pembiayaan perbankan. Pengusaha di Cina, kata Poppy, bisa mendapatkan kredit dengan bunga cuma tiga persen setahun. Di Indonesia, meski sudah negosiasi, pengusaha menengah besar mendapatkan kredit dengan bunga 12 persen. Pengusaha menengah kecil justru lebih besar, 15 persen. “Saya juga tidak tahu, mengapa justru semakin kecil usahanya bukan dibantu malah mendapat bunga kredit lebih besar,” ucap Poppy.

Selain itu, Pemerintah Cina berusaha menempatkan diri sebagai pelayan dengan menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan industri. Mulai dari pengurusan izin usaha yang diproses dengan mudah dan cepat. Tidak ketinggalan infrastruktur penunjang guna memacu ekspor, seperti jalan raya, pelabuhan angkut, dan ketersediaan tenaga listrik.

Di Cina, hingga 2007, jarak jalan raya untuk lalu lintas yang telah dibuka totalnya mencapai 3,57 juta kilometer. Sedangkan untuk pelabuhan, Cina setidaknya memiliki 3.800 pelabuhan angkut, 300 di antaranya dapat menerima kapal berkapasitas 10.000 megaton. Soal listrik, pada tahun lalu, Cina kabarnya bakal mengoperasikan PLTA terbesar di dunia yang mampu menghasilkan tenaga listrik sebesar 84,7 triliun Kwh.

Sementara di Indonesia, panjang jalan raya pada 2007 hanya sekitar 34.000 kilometer. Dari angka itu, 28 persen di antaranya dinyatakan sangat baik dan lebih dari 50 persen layak. Selebihnya, dalam keadaan rusak. Ditambah lagi operasional jalan, harga bahan bakar minyak yang mahal. Belum lagi listrik yang “byar-pet” menjadi fenomena tersendiri di negeri ini.

Dari sisi produktivitas, kata Poppy, satu produk di Indonesia membutuhkan tiga tenaga kerja dibanding Cina. Soal sumber daya manusia, Cina memang tak tanggung-tanggung. Sejak 1990-an, Cina telah mengirimkan ribuan tenaga muda terbaiknya untuk belajar ke beberapa universitas terbaik di Amerika Serikat, seperti Harvard, Stanford, dan Massachusetts Institute of Technology, kampusnya para unggulan di Negeri Paman Sam.

Tak hanya itu, Pemerintah Cina juga membujuk para sarjana yang berada di luar negeri serta profesional, terutama yang sedang dan pernah bekerja di pusat-pusat riset di bidang teknologi di seluruh dunia, agar mau pulang kampung. Mereka ditawari untuk membuka perusahaan baru di Cina. Tentu saja bujukan itu dilakukan dengan iming-iming kemudahan serta fasilitas untuk memulai usaha, seperti insentif pajak, kemudahan dalam perizinan, dan suntikan modal. Hal yang tentu kurang atau mungkin sama sekali, belum dilakukan pemerintah Indonesia.(EPN/dari berbagai sumber)

Sumber: http://berita.liputan6.com/mendalam/201001/258439/ACFTA.Kado.Pahit.di.Awal.Tahun

Video Contest Nu Green Tea 2010 – Rebutin Total Hadiah Puluhan Juta

January 28, 2010 by admin  
Filed under Info Lomba

Hallo Nu Addict,

Ada acara yang lagi diadain sama NuGreenTea lho…,tahun lalu pernah diadain n antusias dari pesertanya masih berlanjut sampai tahun ini..

Mo tau acaranya apa…
Nu Green Tea ngadain acara Nu Video Contest 2010..acaranya seru n gampang banget buat diikutin…n gak musti para professional yang ikutan..

Alat rekamnya pun bisa dari HP loh..atau digicam…atau klo yang niat banget ya..kamera professional. .

Caranya ..rekam aksi kamu n temen kamu dalam bentuk video berdurasi 1 menit,boleh ditambah dengan animasi,backsound, efek atau apapun lah..yg penting bukan SARA lho…
Dengan tema ” Bersihkan Dirimu ” ..
Mo tau hadiahnya…???

Hadiah:

  • Juara 1 : 10 juta
  • Juara 2 : 7,5 juta
  • Juara 3 : 5 Juta
  • Juara Fav : 2,5 juta
  • The best Animation : 2 juta
  • The best Amateur vIDEO : 2 jUTA
  • The Best MASSIVE vIDEO : 2 JUTA

Tahun Ini ada Kategori baru lho… “The Best Amateur” hadiahnya 2 juta , jadi jangan takut ga kebagian hadiah ya..

Kegagalan BOS versi ICW

September 8, 2009 by admin  
Filed under Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Program Bantuan Operasional Sekolah muncul akibat adanya Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak pada Maret 2005 sebesar Rp. 6,2 triliun. Awalnya, Depdiknas mengusulkannya sebagai beasiswa bagi 9,6 juta peserta didik di semua jenjang sekolah.
Akan tetapi, dalam perkembangannya program BOS mengalami beberapa kali perubahan, terutama berkaitan dengan alokasi dana. Pada 2006, unit cost/murid tetap, Depdiknas menambah alokasi untuk BOS buku sebesar Rp20 ribu/muridtahun.
Setahun kemudian, pada 2007, unit cost/murid bertambah. BOS untuk SD sebesar Rp19 ribu, dan SMP sebesar Rp30 ribu. Begitu pula BOS buku, menjadi Rp22 ribu/murid/tahun. Tapi 2008, porsi BOS justru berkurang, terutama BOS buku menjadi Rp11 ribu/murid/tahun.
Pada 2009, menjelang Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menanggalkan jabatannya dan memasuki musim pemilihan legislatif dan eksekutif, Depdiknas mengumumkan penambahan dua kali lipat dana BOS.
Pada tingkat SD rata-rata sebesar Rp145 ribu/murid/tahun dan SMP sebesar Rp216 ribu/murid/tahun. Depdiknas pun membuat dan menayangkan iklan sangat gencar hampir di semua media massa yang menyatakan bahwa sekolah pada tingkat dasar telah gratis.
Empat Penyebab
Sudah empat tahun program BOS digulirkan. Tetapi, tujuannya menghilangkan hambatan bagi warga untuk mendapat pelayanan pendidikan,– paling tidak pada tingkat SD dan SMP atau sederajat, masih belum juga tercapai.
Penelitian yang dilakukan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) selama tahun 2006-2008 memperlihatkan, bahwa sekolah masih membebani orang tua dengan beragam biaya, mulai dari proses penerimaan murid hingga kelulusan.
Malah, menurut Ade Irawan dari Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, tren beban biaya pendidikan yang ditanggung orang tua murid kini semakin bertambah di tengah kenaikan anggaran untuk sektor pendidikan dan adanya dana bantuan operasional sekolah. Pada 2005, total rata-rata biaya sekolah yang dikeluarkan oleh orang tua pada tingkat SD sebesar Rp3,5 juta/tahun dan meningkat menjadi Rp4,7 juta/tahun pada 2008.
Ada beberapa faktor penyebab kegagalan program BOS dalam mencapai tujuannya. Pertama, kara Ade, minimnya alokasi anggaran. Walau Depdiknas menambah alokasi dana BOS menjadi Rp400 ribu/murid/tahun untuk tingkat SD/sederajat dan Rp575 ribu/murid/tahun untuk tingkat SMP/sederajat, jumlah itu masih jauh dari kebutuhan untuk menyediakan sekolah gratis.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas untuk mencapai tujuan program BOS, dana yang mestinya disediakan oleh pemerintah pada tingkat SD/Sederajat adalah Rp1,8 juta/murid/ tahun, sedangkan tingkat SMP/sederajat sebesar Rp2,7 juta/murid/tahun.
“Kedua sama rata alokasi dana BOS, di mana Depdiknas mengasumsikan kondisi dan kebutuhan sekolah di Indonesia sama,” kata Ade, Rabu (2/9) pekan lalu.
Karenanya, lanjut Ade, alokasi dana BOS pun dibuat sama rata. Memang, pada 2009 dibuat perbedaan antara sekolah di wilayah kabupaten dan kota. Akan tetapi dasar penghitungannya tidak jelas yang tergambar dari kecilnya perbedaan alokasi antara sekolah di kebupaten dan kota.
“Ketiga adalah korupsi sistemik. Bahwa, walaupun alokasi dana BOS sangat kecil dan tidak memadai untuk merealisasikan sekolah gratis, tapi masih tetap dikorupsi terutama pada tingkat sekolah dan dinas pendidikan,” ujarnya.
Relasi yang timpang pada tingkat sekolah, kata Ade, terutama lemahnya posisi tawar guru dan orang tua ketika berhadapan dengan kepala sekolah. Sebaliknya, lemahnya posisi kepala sekolah ketika berhadapan dengan dinas juga menyebabkan mudahnya dana BOS dikorupsi.

BOGOR–BEM FEMA. Wajah penyelenggaraan pendidikan di Indonesia belum menunjukkan perbaikan seperti yang diharapkan. Depdiknas melalui program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) memberikan peluang untuk terciptanya sekolah gratis. Tapi dibalik itu semua, ICW menilai program BOS telah mengalami kegagalan, seperti yang diberitakan oleh Kompas di bawah ini:

JAKARTA, KOMPAS.com – Program Bantuan Operasional Sekolah muncul akibat adanya Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak pada Maret 2005 sebesar Rp. 6,2 triliun. Awalnya, Depdiknas mengusulkannya sebagai beasiswa bagi 9,6 juta peserta didik di semua jenjang sekolah.

Akan tetapi, dalam perkembangannya program BOS mengalami beberapa kali perubahan, terutama berkaitan dengan alokasi dana. Pada 2006, unit cost/murid tetap, Depdiknas menambah alokasi untuk BOS buku sebesar Rp20 ribu/muridtahun.

Setahun kemudian, pada 2007, unit cost/murid bertambah. BOS untuk SD sebesar Rp19 ribu, dan SMP sebesar Rp30 ribu. Begitu pula BOS buku, menjadi Rp22 ribu/murid/tahun. Tapi 2008, porsi BOS justru berkurang, terutama BOS buku menjadi Rp11 ribu/murid/tahun.

Pada 2009, menjelang Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menanggalkan jabatannya dan memasuki musim pemilihan legislatif dan eksekutif, Depdiknas mengumumkan penambahan dua kali lipat dana BOS.

Pada tingkat SD rata-rata sebesar Rp145 ribu/murid/tahun dan SMP sebesar Rp216 ribu/murid/tahun. Depdiknas pun membuat dan menayangkan iklan sangat gencar hampir di semua media massa yang menyatakan bahwa sekolah pada tingkat dasar telah gratis.

Empat Penyebab

Sudah empat tahun program BOS digulirkan. Tetapi, tujuannya menghilangkan hambatan bagi warga untuk mendapat pelayanan pendidikan,– paling tidak pada tingkat SD dan SMP atau sederajat, masih belum juga tercapai.

Penelitian yang dilakukan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) selama tahun 2006-2008 memperlihatkan, bahwa sekolah masih membebani orang tua dengan beragam biaya, mulai dari proses penerimaan murid hingga kelulusan.

Malah, menurut Ade Irawan dari Divisi Monitoring Pelayanan Publik ICW, tren beban biaya pendidikan yang ditanggung orang tua murid kini semakin bertambah di tengah kenaikan anggaran untuk sektor pendidikan dan adanya dana bantuan operasional sekolah. Pada 2005, total rata-rata biaya sekolah yang dikeluarkan oleh orang tua pada tingkat SD sebesar Rp3,5 juta/tahun dan meningkat menjadi Rp4,7 juta/tahun pada 2008.

Ada beberapa faktor penyebab kegagalan program BOS dalam mencapai tujuannya. Pertama, kara Ade, minimnya alokasi anggaran. Walau Depdiknas menambah alokasi dana BOS menjadi Rp400 ribu/murid/tahun untuk tingkat SD/sederajat dan Rp575 ribu/murid/tahun untuk tingkat SMP/sederajat, jumlah itu masih jauh dari kebutuhan untuk menyediakan sekolah gratis.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas untuk mencapai tujuan program BOS, dana yang mestinya disediakan oleh pemerintah pada tingkat SD/Sederajat adalah Rp1,8 juta/murid/ tahun, sedangkan tingkat SMP/sederajat sebesar Rp2,7 juta/murid/tahun.

“Kedua sama rata alokasi dana BOS, di mana Depdiknas mengasumsikan kondisi dan kebutuhan sekolah di Indonesia sama,” kata Ade, Rabu (2/9) pekan lalu.

Karenanya, lanjut Ade, alokasi dana BOS pun dibuat sama rata. Memang, pada 2009 dibuat perbedaan antara sekolah di wilayah kabupaten dan kota. Akan tetapi dasar penghitungannya tidak jelas yang tergambar dari kecilnya perbedaan alokasi antara sekolah di kebupaten dan kota.

“Ketiga adalah korupsi sistemik. Bahwa, walaupun alokasi dana BOS sangat kecil dan tidak memadai untuk merealisasikan sekolah gratis, tapi masih tetap dikorupsi terutama pada tingkat sekolah dan dinas pendidikan,” ujarnya.

Relasi yang timpang pada tingkat sekolah, kata Ade, terutama lemahnya posisi tawar guru dan orang tua ketika berhadapan dengan kepala sekolah. Sebaliknya, lemahnya posisi kepala sekolah ketika berhadapan dengan dinas juga menyebabkan mudahnya dana BOS dikorupsi.

Daur Ulang Satu Ponsel Mampu Kurangi 12.585 Kg CO2

September 7, 2009 by admin  
Filed under Berita

Daur Ulang Satu Ponsel Mampu Kurangi 12.585 Kg CO231.Jul.2009Sumber : http://www.detikinet.com/read/2009/07/31/084558/1174833/398/daur-ulang-satu-ponsel-mampu-kurangi-125Jakarta – Sebuah survei global yang dilakukan Nokia menunjukkan bahwa 3 dari 4 orang tidak pernah berpikir untuk mendaur ulang ponsel bekas mereka. Bahkan diyakini, mereka tidak menyadari bahwa ponsel dan aksesoris bekas dapat didaur ulang. Padahal, dampak positif dari proses daur ulang itu luar biasa. Riset produsen asal Finlandia itu mengklaim, sebuah ponsel bekas yang telah didaur ulang dapat mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) sebesar 12.585 kg.Itu baru satu ponsel. Jika semua orang yang memiliki ponsel di seluruh dunia ini yakni sebesar 3 miliar, dan paling tidak hanya satu saja dari mereka yang mendaur ulang ponselnya, maka diyakini akan mengurangi bahan baku sebanyak 240.000 ton serta mengurangi gas rumah kaca yang setara dengan 4 juta kendaraan bermotor. Bambang N Gyat, Technical Advisor TES-AMM mengatakan, sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik dicasingnya, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang. Nah, setiap bagian dari ponsel itu dapat didaur ulangUntuk elemen logam di ponsel dan aksesoris misalnya, kata Bambang, dapat didaur ulang menjadi bahan baku seperti logam besi. Sementara elemen plastik dapat didaur ulang menjadi plastik palet. “Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui bahwa produk-produk yang kita gunakan setiap hari dapat diproduksi dari bahan-bahan yang telah melalui proses daur ulang. Di samping memaksimalkan sumber daya melalui daur ulang e-waste, kita juga dapat turut menghemat energi,” jelasnya.Di Indonesia, Nokia sendiri telah menyediakan box daur ulang di 91 Nokia Care Centre untuk memberikan kemudahan kepada konsumen dalam memberikan ponsel dan aksesoris yang sudah tidak terpakai untuk didaur ulang. Jika semua ponsel telah terkumpul, maka TES-AMM akan mengirimkannya ke pabrik di Singapura untuk di
Jakarta – Sebuah survei global yang dilakukan Nokia menunjukkan bahwa 3 dari 4 orang tidak pernah berpikir untuk mendaur ulang ponsel bekas mereka. Bahkan diyakini, mereka tidak menyadari bahwa ponsel dan aksesoris bekas dapat didaur ulang. Padahal, dampak positif dari proses daur ulang itu luar biasa. Riset produsen asal Finlandia itu mengklaim, sebuah ponsel bekas yang telah didaur ulang dapat mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) sebesar 12.585 kg.
Itu baru satu ponsel. Jika semua orang yang memiliki ponsel di seluruh dunia ini yakni sebesar 3 miliar, dan paling tidak hanya satu saja dari mereka yang mendaur ulang ponselnya, maka diyakini akan mengurangi bahan baku sebanyak 240.000 ton serta mengurangi gas rumah kaca yang setara dengan 4 juta kendaraan bermotor. Bambang N Gyat, Technical Advisor TES-AMM mengatakan, sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik dicasingnya, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang. Nah, setiap bagian dari ponsel itu dapat didaur ulang.
Untuk elemen logam di ponsel dan aksesoris misalnya, kata Bambang, dapat didaur ulang menjadi bahan baku seperti logam besi. Sementara elemen plastik dapat didaur ulang menjadi plastik palet. “Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui bahwa produk-produk yang kita gunakan setiap hari dapat diproduksi dari bahan-bahan yang telah melalui proses daur ulang. Di samping memaksimalkan sumber daya melalui daur ulang e-waste, kita juga dapat turut menghemat energi,” jelasnya.
Di Indonesia, Nokia sendiri telah menyediakan box daur ulang di 91 Nokia Care Centre untuk memberikan kemudahan kepada konsumen dalam memberikan ponsel dan aksesoris yang sudah tidak terpakai untuk didaur ulang. Jika semua ponsel telah terkumpul, maka TES-AMM akan mengirimkannya ke pabrik di Singapura untuk di daur ulang. (ms)
Sumber : http://www.detikinet.com/read/2009/07/31/084558/1174833/398/daur-ulang-satu-ponsel-mampu-kurangi-125

Jakarta – Sebuah survei global yang dilakukan Nokia menunjukkan bahwa 3 dari 4 orang tidak pernah berpikir untuk mendaur ulang ponsel bekas mereka. Bahkan diyakini, mereka tidak menyadari bahwa ponsel dan aksesoris bekas dapat didaur ulang. Padahal, dampak positif dari proses daur ulang itu luar biasa. Riset produsen asal Finlandia itu mengklaim, sebuah ponsel bekas yang telah didaur ulang dapat mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) sebesar 12.585 kg.

Itu baru satu ponsel. Jika semua orang yang memiliki ponsel di seluruh dunia ini yakni sebesar 3 miliar, dan paling tidak hanya satu saja dari mereka yang mendaur ulang ponselnya, maka diyakini akan mengurangi bahan baku sebanyak 240.000 ton serta mengurangi gas rumah kaca yang setara dengan 4 juta kendaraan bermotor. Bambang N Gyat, Technical Advisor TES-AMM mengatakan, sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik dicasingnya, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang. Nah, setiap bagian dari ponsel itu dapat didaur ulang.

Untuk elemen logam di ponsel dan aksesoris misalnya, kata Bambang, dapat didaur ulang menjadi bahan baku seperti logam besi. Sementara elemen plastik dapat didaur ulang menjadi plastik palet. “Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui bahwa produk-produk yang kita gunakan setiap hari dapat diproduksi dari bahan-bahan yang telah melalui proses daur ulang. Di samping memaksimalkan sumber daya melalui daur ulang e-waste, kita juga dapat turut menghemat energi,” jelasnya.

Di Indonesia, Nokia sendiri telah menyediakan box daur ulang di 91 Nokia Care Centre untuk memberikan kemudahan kepada konsumen dalam memberikan ponsel dan aksesoris yang sudah tidak terpakai untuk didaur ulang. Jika semua ponsel telah terkumpul, maka TES-AMM akan mengirimkannya ke pabrik di Singapura untuk di daur ulang. (ms)

Sumber : http://www.detikinet.com/read/2009/07/31/084558/1174833/398/daur-ulang-satu-ponsel-mampu-kurangi-125

Next Page »